Mengembalikan Nalar Kritis Kepada Warga Negara Perspektif Filosofis-Psikologis atas Langkah Rocky Gerung Menerima Jabatan Wantimpres
Kanisius Teobaldus Deki
Pelantikan Rocky
Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden
Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2026 di Istana Negara memicu gelombang
artikulasi publik yang dinamis. Sosok yang selama ini dipersepsikan sebagai
benteng oposisi intelektual dan pengkritik tajam kekuasaan, kini berada di
dalam lingkaran struktur penasihat formal negara.
Respon masyarakat—khususnya rasa kecewa yang muncul dari kelompok masyarakat sipil—menyingkap fenomena psikologis dan epistemologis yang mendalam. Peristiwa ini membuka ruang refleksi baru: fenomena ketergantungan publik pada sosok "figur mesianik" dalam memelihara nalar kritis, serta urgensi demokratisasi keberanian sipil (agency) yang menuntut setiap warga negara untuk beralih dari sekadar menjadi penonton kritis ke subjek kritis yang mandiri.
Artikel ini merupakan edisi kedua, setelah kemarin saya publikasi di laman pribadi dengan judul: Membaca Rocky Gerung Dari Pamta Rhei Heraclitus. Saya tertarik untuk mengulas kembali dari perspektif filsafat dan psikologi dengan tujuan terjadinya sebuah pembalikkan paradigma yang tadinya berpusat pada pribadi orang lain kepada diri kita sendiri.
Tinjauan Filsafat Politik dan Epistemologi
Bagaimana kita membaca langkah RG dalam konsep filsafat politik dan
epistemogi? Ada dua cara membaca yang komplementer: kooptasi versus radicak
break dari dalam dan menempatkan
kekecewaan publik berhadapan dengan Parasocial Alienation.
Pertama nian, Kooptasi vs. Radical Break dari Dalam
Dari sudut pandang
filsafat politik, keputusan Rocky Gerung memasuki lembaga kekuasaan dapat
dibaca melalui kerangka pemikiran filsuf Prancis, Michel Foucault, mengenai power/knowledge (kekuasaan/pengetahuan) dan parrhesia (keberanian menyampaikan kebenaran)
(Foucault, 1980; Foucault, 2001). Dalam perspektif Foucauldian, kekuasaan tidak
melulu bekerja secara represif dari atas ke bawah, melainkan teranyam dalam
jejaring wacana.
Saat Rocky berargumen bahwa posisinya di Wantimpres adalah upaya melakukan "radical break" dari dalam dengan menjalankan kedudukan etis untuk menyaring eksces kebijakan, timbul pertanyaan eksistensial: Apakah seorang intelektual dapat mempertahankan kebebasan parrhesia-nya ketika ia terikat oleh etika kelembagaan dan hierarki formal?
Antonio Gramsci (1971) membedakan intelektual organik dan intelektual tradisional. Selama ini, publik menempatkan Rocky sebagai intelektual yang berjarak dari hegemoni negara. Bergabungnya ia ke Wantimpres menimbulkan keraguan akademis apakah institusi kekuasaan sedang melakukan kooptasi (co-optation) untuk menetralkan wacana kritis, ataukah ini bentuk infiltrasi nalar etis ke dalam pusat pembuatan keputusan.
Kedua, Kekecewaan Publik dan Parasocial Alienation
Dilihat dari teori
tindakan komunikatif Jürgen Habermas (1984), diskursus publik membutuhkan ruang
bebas dari dominasi (domination-free communication).
Publik yang merasa "dikhianati" sebenarnya terjebak dalam delegasi
epistemik: mereka menggantungkan fungsi akumulasi kritik publik kepada satu figur
publik. Ketika sang figur beralih posisi teknis/formal, terjadi krisis
legitimasi dalam persepsi publik karena saluran kritik mereka dianggap telah
terinterupsi.
Di sini titik rawan kesalahan paradoksal kita. Bukankah kita memiliki pengetahuan dan daya nalar yang sama? Ketika banyak akademisi berperilaku seperti masyarakat kebanyakan: kecewa dan melontarkan ekspresi yang naif, pada saat yang sama ia sedang mengamputasi kemampuan kritis dan meniadakan ruang untuk berpikir kritis dan menjadi pribadi yang hanya menikmati hasil perubahan dari perjuangan orang lain. Dengan kata lain, jadilah tukang kritis, jangan hanya penikmat!
Menyambang ke Tinjauan Psikologi Sosial dan Eksistensial
Dalam dunia psikologi, sikap kecewa masyarakat terhadap Rocky dapat dimengerti dalam dua point berikut ini. Pertama, Proyeksi Psikologis dan Fenomena Parasocial Relationship lalu saat bersamaan dapat dilihat dalam konsep Desentralisasi Locus of Control dan Otonomi Eksistensial. Mari kita lihat dua hal ini satu per satu:
Pertama, Proyeksi Psikologis dan Fenomena Parasocial Relationship.
Secara psikologis,
kekecewaan massal publik dapat dijelaskan melalui konsep Parasocial Interaction (Horton & Wohl, 1956) dan
teori identitas sosial (Tajfel & Turner, 1979). Masyarakat secara tidak
sadar memproyeksikan kecemasan, ketakutan, dan ketidakmampuan artikulasi
politik mereka kepada figur Rocky Gerung. Rocky dijadikan sebagai
"pahlawan pengganti" (surrogate hero) yang
mewakili keberanian mereka melawan ketimpangan.
Ketika ikon ini mengambil keputusan institusional yang berseberangan dengan ekspektasi kolektif, publik mengalami cognitive dissonance (Festinger, 1957)—ketidaksesuaian mendasar antara citra mental yang dibangun tentang figur tersebut dengan realitas tindakannya. Kekecewaan ini bukanlah respons terhadap Rocky secara murni, melainkan duka atas rusaknya proyeksi ego kolektif masyarakat.
Kedua, Desentralisasi Locus of Control dan Otonomi Eksistensial
Dalam psikologi
kepribadian, Julian Rotter (1966) memperkenalkan konsep Locus of Control. Publik yang menggantungkan nalar
kritis hanya pada Rocky Gerung menunjukkan external locus of control—meyakini
bahwa daya ubah dan artikulasi kebenaran berada di luar kendali diri mereka
sendiri.
Isu pelantikan ini menuntut pergeseran (paradigm shift) menuju internal locus of control. Dalam pandangan psikologi eksistensial Rollo May (1975) dan Viktor Frankl (1984), setiap individu memiliki tanggung jawab atas kebebasan dan keberaniannya sendiri. Keberanian kritis tidak boleh didelegasikan kepada seorang "mesias intelektual", karena delegasi tersebut sebenarnya adalah bentuk sublimasi dari ketakutan personal untuk menanggung risiko berpendapat.
Pergeseran Paradigma: Mengembalikan Nalar Kritis ke Tangan Warga Negara
Peristiwa 2 Oktober 2026 ini memberikan pelajaran mendasar bagi ekosistem demokrasi Indonesia. Kekecewaan publik harus ditransformasikan menjadi kesadaran kritis yang terdesentralisasi:
Pertama, Demokratisasi Keberanian Sipil: Sikap kritis terhadap negara tidak membutuhkan lisensi intelektual tunggal dari figur panggung media. Setiap warga negara, sesuai kapasitasnya (akademisi, buruh, mahasiswa, profesional), memiliki hak eksistensial dan tugas kewarganegaraan untuk mengawal demokrasi secara independen.
Kedua, Depersonalisasi Gerakan Kritis: Gagasan dan prinsip etis harus diletakkan di atas kepribadian individu. Figur politik dan intelektual dapat berganti peran atau terkooptasi, namun prinsip keadilan, kebenaran, dan kontrol publik terhadap kekuasaan harus tetap konsisten.
Pindahnya Rocky Gerung dari ruang luar ke dalam struktur Wantimpres merupakan ujian bagi dua pihak: ujian integritas metodologis bagi Rocky dalam mempertahankan fungsi pertimbangan etisnya di dalam pemerintahan, sekaligus ujian kedewasaan bagi masyarakat sipil untuk berhenti menjadi penonton yang pasif dan mulai memikul sendiri tanggung jawab keberanian kritisnya.
Referensi:
Chaterine, R. N., & Carina, J. (2026, 2 Oktober). Gabung Wantimpres, Rocky Gerung: Sikap Saya Tetap Radical Break, Cuma Pindah dari Luar ke Dalam. Kompas.com.
Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
Foucault, M. (1980). Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977. Pantheon Books.
Foucault, M. (2001). Fearless Speech. Semiotext(e).
Frankl, V. E. (1984). Man's Search for Meaning. Washington Square Press.
Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. International Publishers.
Habermas, J. (1984). The Theory of Communicative Action: Reason and the Rationalization of Society. Beacon Press.
Hardiman, F. B. (2009). Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Teori Diskursus Jürgen Habermas. Kanisius.
Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction: Observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215-229.
Kompas TV. (2026, 2 Oktober). Usai Dilantik Sebagai Anggota Wantimpres, Rocky Gerung Bicara Soal Sikap Kritis. Kompas.tv.
Lay, C. (2006). Intelektual dan Kekuasaan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 10(1), 1-24.
May, R. (1975). The Courage to Create. W. W. Norton & Company.
Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 80(1), 1-28.
Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In S. Worchel & W. G. Austin (Eds.), The Social Psychology of Intergroup Relations (pp. 33-47). Brooks/Cole.
Tribun Style. (2026, 4 Oktober). 4 Fakta Rocky Gerung Dilantik
Jadi Wantimpres Prabowo, Daftar Artis yang Beri Sindiran di Medsos. Tribunnews.com.
.jpg)
Titin
ReplyDeletePertanyaan saya,
Beranikah kita menjadi tukang kritis, bukan cuma penikmat kritik
Saya Nayra menurut saya kita tidak boleh hanya berharap pada satu tokoh saja seperti bapak Rocky Gerung untuk mewakili suara kita. Ketika beliau sudah memasuki dunia pemerintahan banyak yang kecewa karena banyak yang bergantung pada beliau.Padahal,berani kritis itu tugas kita masing-masing. Jadi daripada sibuk mengidolakan atau kecewa dengan orang lain, mending kita sendiri yang belajar berpikir kritis dan berani bersuara.
ReplyDeleteSaya Nanian sepakat dengan artikel ini mendewasakan. Selama ini kita delegasikan keberanian kritis ke satu figur, jadi saat figur itu masuk Wantimpres kita kecewa. Padahal ini momen untuk mengembalikan nalar kritis ke tangan warga negara sendiri. Integritas Rocky diuji di dalam, kedewasaan kita sebagai warga juga diuji di luar.
ReplyDeleteLola.........
ReplyDeleteTulisan ini menegaskan bahwa nalar kritis tetap penting ketika seorang intelektual masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Langkah Rocky Gerung menerima jabatan Wantimpres menjadi ujian apakah sikap kritisnya tetap konsisten. Menurut saya, kritik yang baik bukan hanya berani menyampaikan pendapat, tetapi juga mampu memberikan pertimbangan yang objektif dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Fitri gin menurut saya Artikel ini juga memberikan pelajaran bahwa perubahan posisi seseorang tidak selalu berarti ia kehilangan prinsip, tetapi tetap perlu dilihat secara kritis melalui tindakan dan kebijakan yang diambil setelah berada dalam lembaga tersebut. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya kecewa atau mengagungkan seorang tokoh, tetapi juga mengembangkan kemandirian berpikir dan keberanian untuk menilai kebijakan berdasarkan fakta.
ReplyDeleteMenurut saya, kejadian ini cukup menarik dan menjadi perhatian publik karena Rocky Gerung yang selama ini dikenal sebagai pengkritik pemerintah kini justru menjadi bagian dari Wantimpres. Menurut saya, yang perlu dilihat bukan hanya perubahan posisinya, tetapi bagaimana ia menjalankan tanggung jawab tersebut. Jika sikap kritisnya tetap dipertahankan dan digunakan untuk memberikan pertimbangan yang objektif kepada Presiden, kehadirannya justru bisa menjadi bagian penting dalam mengawasi dan mengevaluasi kebijakan pemerintah.
ReplyDeletejoy pertanyaan dari saya berkaitan dengan artikel diatas Jika kita sepakat bahwa keberanian kritis tidak boleh bergantung pada satu figur, lalu bagaimana kita memastikan bahwa masyarakat benar-benar mampu menjadi subjek kritis yang mandiri, bukan sekadar berpindah dari mengidolakan Rocky Gerung menjadi mengidolakan figur kritis lainnya?
ReplyDeleteSaya intan ere Menurut saya, langkah Rocky Gerung terima Wantimpres itu wajar dan tidak perlu dianggap pengkhianatan karna, Selama ini dia kritik dari luar, sekarang dia coba kritik dari dalam ,Wantimpres juga bukan jabatan eksekutif. Secara filosofis, ini justru ujian berat buat dia. Lebih gampang teriak merdeka di luar pagar, dari pada tetap merdeka berpikir saat sudah di dalam istana. yang bikin warga kecewa itu bukan Rocky-nya, tapi karena kita sudah terlalu nyaman nitip nalar kritis ke satu tokoh. nalar kritis itu harus kembali ke warga negara. Jangan lagi kita nunggu Rocky bersuara baru kita berani kritis. Kita sendiri yang harus tetap kritis, mau Rocky di luar atau di dalam.
ReplyDeleteSaya seren, menurut saya kita harus bisa memberikan pendapat atau kritik kita terkait isu publik politik yang terjadi sekarang tanpa harus melalui tokoh-tokoh publik yang ada. Karena suara kita tidak membutuhkan tokoh-tokoh publik untuk bisa di dengar melainkan keberanian kita untuk bisa menyuarakan apa yg terjadi saat ini
ReplyDeleteSaya Ivon. Berkaitan dengan artikel di atas, menurut saya nalar kritis bukan hanya milik Rocky Gerung saja, melainkan milik kita semua sebagai warga negara. Dilantiknya Rocky Gerung menjadi Wantimpres tidak mengubah kita untuk selalu menjadi warga yang kritis.
ReplyDeleteTerimaksi 🙏🏻
Saya Tesa, menurut saya artikel ini relevan dengan kondisi saat ini. Kita tidak boleh bergantung pada satu tokoh untuk menyuarakan kritik. Sebagai masyarakat, kita harus berani berpikir kritis dan ikut mengawasi pemerintah secara mandiri.
ReplyDeleteMenurut saya masuknya Rocky Gerung ke Wantimpres adalah momen menarik dalam demokrasi bahwa kekuasaan tetap terbuka bagi suara yang berbeda. Namun keberhasilan perannya tidak ditentukan saat pelantikan, melainkan dalam perjalanan kedepannya. Berada di dalam struktur pemerintahan tentu ada batasan dan etika jabatan yang dijunjung. Publik tidak hanya menilai dari ucapan, tetapi tindakan nyata apakah kritik yang disampaikan benar-benar diindahkan dan menghasilkan perbaikan kebijakan.
ReplyDeleteTerima kasih🙏
Saya Rendy, menurut saya artikel ini cukup relate dengan keadaan sekarang. Kita jangan hanya mengandalkan satu tokoh untuk menyuarakan kritik. Sebagai mahasiswa,kita juga harus berani berpikir kritis dan menyampaikan pendapat dengan cara kita sendiri.
ReplyDeletemenurut saya Peristiwa ini diulas dari sudut pandang filsafat, psikologi, dan epistemologi: mengingatkan kita agar tidak bergantung pada satu tokoh untuk menjaga kebenaran atau mengkritik kekuasaan. Tujuannya mengubah pola pikir: dari menaruh harapan pada orang lain, menjadi setiap warga negara wajib memiliki kemampuan berpikir kritis yang mandiri dan berdiri sendiri.
ReplyDeleteSaya Olga "Rocky Gerung tidak sedang mendefinisikan fiksi sebagai kebohongan, melainkan sebagai metode berpikir. Nalar fiktif adalah kemampuan mengimajinasikan realitas yang belum ada untuk kemudian diwujudkan. Di situ letak relevansinya, sekaligus letak kerentanannya: kuat secara filosofis, tapi rawan disalahpahami secara publik."
ReplyDeleteMenurut saya artikel ini menggeser fokus dari kekecewaan pada Rocky ke pertanyaan tentang diri kita sendiri. Jika selama ini kita menitipkan keberanian kritis kepada satu tokoh, maka masuknya dia ke Wantimpres justru membuka ruang untuk belajar bahwa nalar kritis itu seharusnya menjadi milik setiap warga, bukan monopoli satu orang.
ReplyDelete