Membaca Rocky Gerung dari Panta Rhei-Heraclitos

 Kanisius Teobaldus Deki

 

Rocky Gerung (sumber: zonautara.com)

Langkah Rocky Gerung (RG) yang merapat ke pusaran kekuasaan—dari pengeritik keras hingga resmi dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era Presiden Prabowo Subianto—menimbulkan keheranan publik. Publik yang terbiasa melihatnya melemparkan kritik tajam kini bertanya-tanya: Apakah sang filsuf telah melunakkan posisinya, ataukah ini maneuver politik yang rasional?

Banyak orang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya saat ini terjadi pada RG? Saya ingin membedahnya dari kacamata seorang filsuf Yunani Kuno, Heraclitos. Heraclitus dari Efesus (sekitar 535–475 SM) adalah seorang filsuf Yunani Klasik pra-Socrates yang berasal dari kota Efesus (sekarang wilayah Turki). Ia dikenal sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam tradisi filsafat Barat karena gagasannya tentang sifat dasar realitas yang terus berubah.

Fenomena ini dapat dibedah secara filosofis menggunakan ajaran Heraclitus, filsuf Yunani Klasik abad ke-6 SM, melalui doktrin utamanya: "Panta Rhei kai ouden menei" (segala sesuatu mengalir dan tidak ada yang tetap).

Dialektika Panta Rhei: Perubahan Arena, Bukan Perubahan Esensi

Prinsip Panta Rhei mengajarkan bahwa realitas bukanlah benda diam, melainkan proses perubahan yang tiada henti—ibarat air sungai yang terus mengalir. Heraclitus mengekspresikannya melalui adagium terkenal:


"Engkau tidak bisa melangkah ke dalam sungai yang sama dua kali, karena air baru terus mengalir mendatangi dirimu."

Dalam merespons keheranan publik, Rocky Gerung menyatakan bahwa ia hanya melakukan "pindah posisi dari luar ke dalam". Menggunakan kacamata Heraclitus, dinamika ini menggambarkan situasi di mana:

1.     Sungai Politik yang Berubah: Lanskap politik Indonesia pasca-pemilu telah bergerak. Relasi oposisi dan pemerintah bukanlah status quo yang beku, melainkan aliran dinamis yang menuntut strategi baru.

2.     Pergeseran Fungsi, Bukan Integritas: Bagi Rocky, integritas pemikiran tidak ditentukan oleh ruang fisik (luar Istana vs. dalam Istana), melainkan oleh Logos—daya nalar dan prinsip kritis. Keputusannya diambil untuk mempraktikkan apa yang ia sebut sebagai radical break, yaitu memberikan pertimbangan etis langsung kepada Presiden di titik pusat pengambilan kebijakan.

Harmonia en Enantioteti: Harmoni dari Pertentangan

Heraclitus juga memperkenalkan konsep Unity of Opposites (Penyatuan Hal-Hal yang Berlawanan). Bagi Heraclitus, konflik (polemos) adalah bapak dari segala hal, dan harmoni sejati diciptakan dari tegangan antara dua elemen yang saling berlawanan—seperti dawai kecapi yang menghasilkan nada indah karena ditarik oleh dua arah yang berlawanan.

 

Elemen Kritis (Luar Pemerintahan)

Elemen Eksekutif (Dalam Pemerintahan)

Fungsi: Mengritik dari luar via panggung publik

Fungsi: Eksekusi kebijakan dan tata kelola negara

Sifat: Konfrontatif dan dialektis

Sifat: Pragmatis dan manajerial

Sintesis (Wantimpres): Menyuarakan pertimbangan etis lansung di dalam struktur kekuasaan

 

Penunjukan Rocky Gerung menunjukkan bahwa kekuasaan tidak bisa berjalan optimal hanya dalam ruang hampa persetujuan. Masuknya pengkritik ke dalam lembaga pertimbangan presiden mencerminkan dialektika Heraclitean: kekuasaan membutuhkan "oposisi internal" agar arah kebijakan tetap selaras dengan prinsip etis dan janji publik.


Mengapa Masyarakat Terheran-heran?

Rasa heran publik muncul akibat perbedaan cara pandang terhadap konsistensi:

1.     Pandangan Estatid/Kaku (Dogmatis): Publik mengaitkan oposisi sebagai label identitas yang permanen. Ketika seorang pengkritik masuk ke dalam Istana, persepsi awam langsung menilainya sebagai bentuk "kompromi" atau "penyerahan diri".

2.     Pandangan Dinamis (Heraclitean): Konsistensi seorang akademisi tidak diukur dari posisi duduknya, melainkan dari keberanian bernalar. Dalam perspektif ini, perubahan posisi dari kritikus luar menjadi penasihat dalam adalah konsekuensi logis ketika ruang untuk memengaruhi kebijakan secara langsung terbuka lebar.

Perubahan posisi Rocky Gerung menjadi anggota Wantimpres memvalidasi bahwa dalam politik—sebagaimana dalam alam semesta Heraclitus—satu-satunya hal yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Publik tidak perlu menilai perubahan ini dari label luar, melainkan memantaunya melalui bukti nyata: Apakah nalar kritis tersebut tetap mengalir di dalam Istana, ataukah justru membeku di dalam lingkar kekuasaan?

 

Ruteng, 4 Oktober 2026

 

Referensi:

Arendt, H. (1958). The Human Condition. University of Chicago Press.

Bertens, K. (1999). Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles. Yogyakarta: Kanisius.

Graham, D. W. (2015). Heraclitus. In E. N. Zalta (Ed.), Stanford Encyclopedia of Philosophy.

Gerung, R. (2013). Filsafat Politik dan Diskursus Publik. Jurnal Driyarkara / Makalah Akademis.

Hardiman, F. Budi. (2009). Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Teori Diskursus Jürgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.

Kahn, C. H. (1979). The Art and Thought of Heraclitus: An Edition of the Fragments with Translation and Commentary. Cambridge University Press.

Sekretariat Presiden Republik Indonesia. Dokumentasi Resmi dan Siaran Pers Pelantikan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).


Comments

Popular posts from this blog

RITUS TEING HANG ORANG MANGGARAI[1] (Sebuah Studi Awal Untuk Mencari Pertautannya dengan Inkulturasi Iman Kristen)

Asal Usul Orang Manggarai-Flores-NTT

Rindu yang Jadi Nyata? Tentang Impian Kekuasaan Orang Cibal di Manggarai