Posts

FIFA ASEAN Cup: Indonesia "Belum" Menang?- Catatan Perspektif Filsafat

Image
Kanisius Teobaldus Deki Timnas Garuda (sumber: Instagram) Pengantar Kemenangan Tim Nasional Indonesia atas Thailand dalam ajang Piala ASEAN pada Senin, 5 Oktober 2026, tentu menyisakan rasa bangga. Namun, jika ditelisik lebih dalam, kemenangan tersebut sejatinya belumlah utuh. Skuad Garuda yang berlaga sebagian besar didominasi oleh pemain-pemain hasil proses naturalisasi, sementara porsi untuk pemain asli binaan lokal hanya mengisi sebagian kecil slot tim. Ketergantungan pada pemain keturunan atau hasil naturalisasi merupakan solusi jangka pendek yang efektif untuk mendongkrak prestasi secara instan. Meski demikian, langkah ini tidak boleh menutupi realitas bahwa fondasi sepak bola nasional belum sepenuhnya kokoh. Indonesia baru bisa dikatakan benar-benar menang apabila mampu mencetak kejayaan lewat deretan talenta yang tumbuh dan ditempa dari tanah air sendiri. Membedah dari Perspektif Filsafat Perspektif filsafat memberikan sudut pandang mendalam untuk menduduki arti kemenan...

Mengembalikan Nalar Kritis Kepada Warga Negara Perspektif Filosofis-Psikologis atas Langkah Rocky Gerung Menerima Jabatan Wantimpres

Image
  Kanisius Teobaldus Deki   Rocky Gerung jadi Wantipmpres (sumber:wikipedia) Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2026 di Istana Negara memicu gelombang artikulasi publik yang dinamis. Sosok yang selama ini dipersepsikan sebagai benteng oposisi intelektual dan pengkritik tajam kekuasaan, kini berada di dalam lingkaran struktur penasihat formal negara. Respon masyarakat—khususnya rasa kecewa yang muncul dari kelompok masyarakat sipil—menyingkap fenomena psikologis dan epistemologis yang mendalam. Peristiwa ini membuka ruang refleksi baru: fenomena ketergantungan publik pada sosok "figur mesianik" dalam memelihara nalar kritis, serta urgensi demokratisasi keberanian sipil ( agency ) yang menuntut setiap warga negara untuk beralih dari sekadar menjadi penonton kritis ke subjek kritis yang mandiri. Artikel ini merupakan edisi kedua, setelah kemarin saya publikasi di laman pribadi den...

Membaca Rocky Gerung dari Panta Rhei-Heraclitos

Image
  Kanisius Teobaldus Deki   Rocky Gerung (sumber: zonautara.com) Langkah Rocky Gerung (RG) yang merapat ke pusaran kekuasaan—dari pengeritik keras hingga resmi dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era Presiden Prabowo Subianto—menimbulkan keheranan publik. Publik yang terbiasa melihatnya melemparkan kritik tajam kini bertanya-tanya: Apakah sang filsuf telah melunakkan posisinya, ataukah ini maneuver politik yang rasional? Banyak orang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya saat ini terjadi pada RG? Saya ingin membedahnya dari kacamata seorang filsuf Yunani Kuno, Heraclitos. Heraclitus dari Efesus (sekitar 535–475 SM) adalah seorang filsuf Yunani Klasik pra-Socrates yang berasal dari kota Efesus (sekarang wilayah Turki). Ia dikenal sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam tradisi filsafat Barat karena gagasannya tentang sifat dasar realitas yang terus berubah. Fenomena ini dapat dibedah secara filosofis menggunakan ajaran Heraclitus ...

Legal Recognition of Customary Law Communities and Customary Forest Governance in East Nusa Tenggara, Indonesia: Lessons from Gendang Racang–Colol

  Kanisius Teobaldus Deki Lembaga Nusa Bunga Mandiri (LNBM) STIE Karya Ruteng Abstract Customary Law Communities ( Masyarakat Hukum Adat —MHA) are social communities that have existed across generations, possess a shared identity and customary territory, maintain customary institutions, and regulate their collective life through customary norms and laws. Within the Indonesian legal system, the existence of Customary Law Communities is constitutionally recognized under Article 18B paragraph (2) and Article 28I paragraph (3) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. The legal position of customary communities, particularly in relation to forest tenure, was further strengthened by Constitutional Court Decision No. 35/PUU-X/2012, which affirmed that customary forests are no longer categorized as State Forests. Nevertheless, constitutional recognition has not always been followed by effective and timely administrative recognition at the regional level. This article ...