Kornelis Penga, Petarung yang Visioner dari Kopdit Hanura
Kanisius
Teobaldus Deki
Program
Studi Manajemen-STIE Karya,
Direktur
Lembaga Nusa Bunga Mandiri,
Penulis
Buku:
Terus
Menggemakan Nurani, Memantulkan Kesejahteraan (LNBM Press, 2020)
Sabtu, 28
Maret 2026 saya dikejutkan oleh sebuah berita duka: Kornelis Penga telah wafat.
Pria yang energik dan visioner ini akhirnya menyelesaikan pertandingan hidupnya
di dunia. Menurut kisah rekan dari Puskopdit, pada 30 Januari 2026, ia masih
mengikuti Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Kredit Hanura. Kala itu, ada
pemilihan Pengurus-Pengawas baru lembaga keuangan mikro itu. Ia telah
menghabiskan masa tugasnya dengan baik. “Ia tidak prima lagi, tampilannya
memperlihatkan ia sedang kurang sehat, sempat saya saksikan ia terhuyung-huyung
menahan beban tubuhnya”, kisahnya.
Kornelis memimpin lembaga itu selama lebih dari 25 tahun. Ia boleh puas memejamkan matanya setelah regenerasi kepemimpinan berhasil dilakukan. Pengurus-Pengawas baru boleh melanjutkan kepemimpinan setelah lembaga itu telah bergerak kencang ke etape berikutnya yang lebih maju.
Artikel ini merupakan sebuah catatan kenangan sekaligus tapak-tapak juang yang sempat tertoreh dalam kebersamaan, baik di Puskopdit maupun sesama rekan pegiat Kopdit dari GKKI (Gerakan Koperasi Kredit Indonesia).
Menjadi Petarung dengan Visi
Laki-laki itu memiliki semangat juang yang
tinggi. Bicaranya meledak-ledak. Jika ada hal yang menurutnya benar, ia tak
sungkan-sungkan mengatakannya secara terus terang. Bahkan ia tak terlalu
memedulikan perasaan orang lain, asal saja hal yang disampaikannya benar dan
sangat urgen untuk ditindaklanjuti. “Pak Kornelis tipe orang yang jujur. Dia
memiliki di dalam dirinya keberanian yang besar untuk membawa perubahan.
Baginya, perubahan ke arah yang baik adalah kata kunci seluruh perjuangannya”,
ungkap Bapa Hironimus Seman suatu kali.
Penga
Kornelis lahir di Ngada pada 26 Februari 1958. Pendidikan dasar hingga menengah
dijalankannya di kampung halaman, di bawah kaki gunung Inerie. Perjalanan atudi
lanjutnya diteruskan di kota karang, Kupang untuk grade Diploma II, Tahun 1981
di Universitas Nusa Cendana Kupang. “Saya datang ke Borong karena penempatan
sebagai guru di SMP Negeri Borong tahun 1986 Borong saat itu hanyalah sebuah
kampung dengan tingkat heterogenitas yang sangat tinggi. Hampir semua suku dan
agama ada di sini. Ada situasi majemuk yang mempersatukan semua orang karena locus (tempat) yang sama”, ujarnya.
Borong
kala itu dari sisi perekonomian sangatlah miskin. Bahkan dalam kondisi musim
kering, hujan tidak turun, menyebabkan banyak petani mengalami kelaparan.
Masyarakat di pedesaan mengonsumsi ubi hutan yang disebut dengan bahasa lokal
raut. Banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikan akibat biaya yang minim.
Daya beli masyarakat juga rendah. Ikan yang ditangkap nelayan lebih banyak
ditukar (barter) dengan beras, jagung pun ubi kayu.
“Melihat
situasi itu kami berpikir, bagaimana kita bisa mengatasi masalah kebutuhan uang
dan perbaikan ekonomi masyarakat? Pada saat Bapa Herman mengajak saya untuk
mendirikan Credit Union (Kopdit),
saya menerimanya dengan senang hati”, kisahnya. Sejak tahun 1995, Bapa Kornelis
menjadi anggota Pengurus hingga saat ini.
Sebagai
guru di sekolah, dia memiliki keprihatinan yang sama. Para guru dan pegawai menginisiasi
lahirnya Koperasi Handayani. “Koperasi ini bertumbuh dan berkembang selama masa
Bapa Kornelis menjadi pengurus. Namun selepas itu, Koperasi ini akhirnya mati
dengan sendirinya”, jelas Bapa Viktor Daus, salah seorang auditor pada masa
itu. Rupanya, spirit awal untuk membangun Kopdit yang baik, terbantai oleh
perilaku-perilaku instan pengurus selanjutnya. Hingga akhirnya, Koperasi
Handayani berhenti tanpa berita.
Suami
dari ibu Gaudensia Bupu dan ayah dari Maria Gorety Penga, Robertus Suria Penga,
Herman Yosef Penga, Valentinus Waso Penga dan Marianus Penga, setia menjadi
Pengurus di Kopdit Hanura. Selain mengurus Kopdit Hanura dan Handayani, dia
juga menjadi pengelola pendidikan luar sekolah dalam bentuk Paket A, B dan C
sejak tahun 1995 hingga pensiun. “Saya menjalankan tugas ini dengan segenap
hati walau biayanya sangat minim. Namun kebahagiaan saya terletak pada
keberhasilan membuat mereka memunyai ijazah untuk melanjutkan pendidikannya. Di
antara mereka ada yang sudah menjadi tentara, polisi dan aneka profesi
lainnya”, kisahnya.
Tak hanya
berhenti di situ. Ia juga menaruh perhatian pada pendidikan anak usia dini
(PAUD) di lingkungan rumahnya. Ia mengajak warga untuk membentuk kepribadian
anak-anak melalui panti pendidikan nonformal ini. Alhasil, banyak anak yang
sebelumnya tidak bisa mengenyam pendidikan semacam itu, akhirnya mendapat
kesempatan yang baik. “Di depan rumah kami bangun macam-macam wahana bermain. Intinya,
anak-anak diperhatikan selayaknya mereka harus dididik sejak usia dini. Inilah
cara kami membangun peradaban. Sebuah komitmen untuk mendesain masa depan
anak-anak secara terencana dan berkelanjutan”, jelasnya.
Tatkala
belum ada akses ke berbagai tempat di lingkungan Wolo Kolo hingga Liang Mbala,
Bapa Nelis salah satu penggagas untuk membuka jalan desa. Sebelumnya, banyak
tempat tak bisa diakses. “Kami mendekati bapa Kepala Desa Kotandora untuk
membuka jalan bersama warga. Awalnya ada yang pesimis. Namun lambat laun warga
mulai menyadari pentingnya jalan ini lalu turut terlibat di dalamnya. Saat ini
warga baru menyadari betapa keputusan untuk membuka jalan dulu merupakan
pilihan yang tepat. Tanah-tanah mereka terhubung oleh jalan hingga tepi pantai”,
kisahnya.
Menurut
Bapa Kornelis, menjadi anggota Kopdit merupakan jawaban atas tantangan
kehidupan yang tak pernah berhenti. Situasi kemiskinan yang melanda masyarakat
merupakan titik mulai yang sudah seharusnya membuat sebuah lembaga keuangan
berdiri. “Akses ke bank sangat terbatas. Masyarakat kita lebih banyak petani,
tukang dan nelayan. Mereka mengalami kesulitan saat itu untuk meminjam di
bank”, jelasnya.
Dalam
perjalanan waktu, ketika pendidikan dan pelatihan terus diikutinya, dia makin
memahami apa itu Kopdit dan bagaimana mengelolanya. Pengalaman demi pengalaman
terus ditimbanya. Dia merasa bahwa koperasi itu jiwa dari perekonomian yang
sejati. Mengapa demikian? “Kopdit itu lembaga usaha milik anggota. Anggotalah
yang berperan penting untuk membesarkan lembaganya sendiri. Melalui Kopdit
anggota memeroleh pinjaman, baik untuk usaha maupun kebutuhan konsumtif. Dia
meminjam karena memiliki hak. Dia dihargai bukan karena jaminan melainkan
karena kedudukannya sebagai pemilik lembaga. Saat dia mengembalikan pinjaman,
dia sedang menolong anggota lain yang membutuhkan pasokan modal. Dengan jalan
itu, sesuai spirit jiwa adalah menghidupkan, Kopdit berjalan dalam rel itu,
menjadi jiwa perekonomian yang bermartabat”, refleksinya.
Selama
rentangan 25 tahun, Bapa Kornelis menepi untuk merenungkan perjalanan dirinya,
lembaga dan anggota yang dilayaninya. Dia menjadi sadar bahwa kemiskinan
bukanlah takdir. Kemiskinan adalah peluang untuk mengubahnya menjadi
kesejahteraan. Kemiskinan harus dihadapi, bukan ditakuti atau dihindari.
Kemiskinan membantu kita untuk paham bahwa hidup tak pernah menyajikan
kenyataan yang mudah. Ia selalu memberi kita ruang untuk membangun dan
membangun seraya membuktikan kemampuan-kemampuan yang kita miliki secara
maksimal dalam medan pelayanan lembaga. “Semua yang terjadi selama 25 tahun ini
adalah rahmat Tuhan dan buah dari kerja keras tim. Kerja keras, kerja tuntas,
kerja iklas ini merupakan jalan pembebasan masyarakat yang masih terbelenggu
rantai kemiskinan. Kopdit Hanura menjadi semacam gema yang memantulkan
kesejahteraan dari hati nurani setiap anggotanya”, imbuhnya.
Sebagai
jiwa, Kopdit harus tetap dirawat agar tetap sehat. Perawatan itu dengan jalan
membangun komitmen yang baik dalam diri anggota dan Badan Pengurus, Badan
Pengawas dan Manajemen. Komitmen untuk bekerja secara sungguh, menyimpan
teratur dan mengembalikan pinjaman sesuai dengan perjanjian. Ruang inilah yang
memungkinkan solidaritas terbangun. Dengan ketersediaan modal yang stabil
berefek pada likuiditas keuangan lembaga. Dengan jalan ini, kredit macet
menjadi kecil dan deviden anggota dalam bentuk SHU akan meningkat dari waktu ke
waktu.
Menulis
Buku, Mengekalkan Perjuangan
Pada
suatu waktu, Pak Kornelis menjumpai saya di ruang rapat Puskopdit. Kami
kebetulan sama-sama menjadi pengurus Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit)
Manggarai. Saya menjabat sebagai wakil ketua dan Pak Kornelis menjadi
sekretaris. Ia menyampaikan niat menulis buku 25 tahun Kopdit Hanura.
"Saya berpikir bahwa usaha dan perjuangan para pendiri lembaga ini
didokomentasi dalam sebuah buku yang prestisius. Perjuangan para pendiri dan
anggota awali serta pelanjut merupakan langkah strategis untuk mengekalkan
perjuangan lembaga ini membangun kemaslahatan hidup orang banyak”, jelasnya.
Saya
menyetujui ide dan rencana itu. Lalu mulai membuat riset permulaan, mendekati
para tokoh yang memulai lembaga ini, termasuk menjumpai tokoh-tokoh
berpengaruh. Dari situlah saya berselancar dengan dokumen-dokumen lembaga
Hanura, mencermati setiap data, keputusan dan kebijakan. Jatuh-bangun lembaga
terbaca pada laporan RAT setiap tahun.
Pak
Kornelis berkisah tentang prahara yang hampir meluluh-lantakkan usaha Kopdit
Hanura. “Kopdit Hanura dililit berbagai utang dari bank. Likuiditas tidak ada
sama sekali. Anggota mulai mempertanyakan kinerja pengurus. Manajemen sulit
memberikan jawaban ketika ada yang ingin meminjam namun tak bisa dikabulkan.
Bahkan untuk mengambil uang yang disimpanpun kelimpungan”, paparnya.
Ia lalu
berinisiatif untuk membalikkan keadaan walaupun posisinya sebagai sekretaris.
Ia memimpin tim untuk menjumpai anggota yang macet dengan tak jemu-jemunya.
Perlahan-lahan ada uang di kas. Pola dan metode itu berulang. Semangat karyawan
dipacu. Proses pemberian kredit diselidiki dengan seksama. “Kelemahan manajerial
dalam pemberian kredit sangatlah berbahaya. Perlu kehati-hatian. Karena itu
asal memberikan kredit bisa menyebabkan Kopdit Hanura hancur. Nyawa dari
Koperasi Kredit adalah pada kredit dan pengembalian pinjamannya”, tuturnya.
Usaha dan
perjuangan Pak Kornelis bersama tim kerja membuahkan hasil. Pinjaman bank
berhasil dikembalikan. “Kita boleh berbangga bahwa kerja sama ini membuahkan
hasil. Bebas dari pinjaman bank merupakan prestasi besar untuk catatan
perjalanan hidup Kopdit Hanura. Hal ini membuat saya berkomitmen agar lembaga
ini tidak boleh jatuh lagi”, tuturnya.
Selama
dirinya menjadi ketua, ia membangun gedung aula, perluasan kantor dan ekspansi
wilayah pelayanan. Ia mengepung wilayah perbatasan Manggarai Timur dengan
Ngada, membuka tempat pelayanan di Ngada, Manggarai, Manggarai Barat hingga ke
Sumba. “Kita mulai dengan etnik orang Bajawa dan Manggarai di Sumba. Ini
terobosan baru”, jelasnya.
Banyak
orang menilai watak Pak Kornelis keras. Bahkan cenderung otoriter. “Saya memang
keras dan bisa dibilang otoriter karena ada latar belakangnya. Kecerobohan
sedikit saja di lembaga ini bisa membawanya ke jurang kehancuran. Itu tidak
boleh terjadi lagi”, harapnya.
Pak
Kornelis orang yang selalu ingin disiplin, bersih dan rapih. Ketika kami
sama-sama sebagai pengurus Puskopdit Manggarai Raya, saban hari saat jelang
rapat, ia datang pagi-pagi sebelum pegawai Puskopdit masuk kantor. Ketika ia
melihat sekeliling kantor tidak bersih ia mencari sapu dan mulai menyapu. “Saya
ingin kantor selalu bersih, herannya pegawai di sini bisa bekerja walau
lingkungannya kotor”, sindirnya.
Project
menulis buku Kopdit Hanura saya jalankan setelah kontrak ditandatangani. Proses
pengerjalaan riset dan penulisan buku ini berjalan lancar karena data yang
tersimpan baik, sikap proaktif pengurus-pengawas-manajemen Kopdit Hanura serta
anggota yang bersemangat. “Saya berterima kasih kepada Pak Nik dan Lembaga Nusa
Bunga Mandiri karena Kopdit kami telah dibukukan. Ini merupakan sebuah
penghargaan terhadap perjuangan para pelaku Kopdit. Ini bukan sekedar sebuah
tindakan dokumentatif. Lebih dari itu, menulis buku bagi saya adalah
mengekalkan perjuangan sekaligus pemandu arah bagi pelanjut Kopdit ini ke masa
depan”, ujarnya bersemangat.
Hari ini,
Sabtu 28 Maret 2026, saya datang melayat sekaligus mengucapkan kata pisah untuk
terakhir kalinya. Tangannya terkatub, matanya tertutup. Kornelis Penga telah
pergi untuk selamanya. Visinya pada bidang pendidikan formal dan non formal
serta giatnya pada Kopdit Hanura telah usai. Penyakit gula darah menghentikan
semua aktivitasnya. Namun kenangan akan kebaikannya tetap abadi, sebagaimana
judul buku yang ditulis: Terus Menggemakan Nurani, Memantulkan Kesejahteraan.
Selamat Jalan Sahabat!


Comments
Post a Comment