Mengenang Kae Josy Florisan: Tonggak Penopang Penerbit Ledalero

Kanisius Teobald Deki

Foto: Yosep Maria Florisan

Saya terkejut menerima berita ini. Kae Josy, demikian kami biasa menyapanya, pemilik nama lengkap Yoseph Maria Florisan, berpulang. Betapa mengejutkan. Pria yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk publikasi ini menorehkan banyak maha karya yang selalu aktual dan relevan.

Tulisan ini merupakan sebuah catatan kecil tentang fragmen-fragmen kebersamaan yang seluruhnya tercatat rapih. Penggalan-penggalan kisah yang langsung mengemuka saat memori menarik ingatan padanya.

Bergerak dari LPBAJ

Saya mengenal Kae Josy saat masih SMA. Wajahnya periang. Ia frater asal Paroki Kumba. Ia terlihat gagah. Kae Josy lahir pada 31 Mei 1967 di Kumba-Ruteng. Ayahnya seorang guru sekaligus katekis handal di Paroki Kumba.

Perjumpaan yang intens dengan Kae Josy terjadi saat saya juga menyandang status yang sama: frater. Namun Kae Josy sudah berkarya sebagai penulis dan penterjemah di Lembaga Pembentukkan Berlanjut Arnold Yanssen (LPBAJ), besutan P. Georg Kirchberher SVD.

P. Kirch demikian sapaan hariannya menampung banyak eks frater untuk bekerja di bidang publikasi. Kae Josy bersama Kae Aleksius Armanjaya menjadi orang kuat bagi lahirnya terjemahan-terjemahan artikel dan buku penting, utamanya dokumen gereja dan buku teologi, filsafat, psikologi serta kerasulan kitab suci. Dua senior yang menjadi petarung menghadirkan karya hebat dan besar.

Penerbit Ledalero-Medan Juang, Mercusuar Ilmu

Kiranya tak bisa disangkal, Penerbit Ledalero merupakan langkah strategis setelah Penerbit Nusa Indah mulai redup dan tertatih-tatih dibantai pertarungan dunia penerbitan lain di nusantata. Kebetulan industri perbukuan sedang beranak pinak. Di bawah ide genial P. Kirch dan para dosen yang kala itu membangun Jurnal Ledalero, Kae Josy dan Kae Alex menjadi pelaku yang ikut menghidupkan api karya di lembaga yang baru dibentuk itu.

Tahun 2000-an kencang angin perubahan paradigma dari teologi klasik-normatif kepada teologi kontekstual. Karya-karya bidang ini sangat deras berpusar dalam relung budi anak-anak filsafat dan teologi. Efek dari pergulatan teologi pembebasan di Amerika Latin, teologi Afrika dan gerakan yang sama di Asia. Buku sumber juga sangat terbatas. Munculnya karya Stephen B. Bevans, Teologi Kontekstual (aslinya berjudul: Models of Contextual Theology, 2002), merupakan alat bantu istimewa. Itu adalah karya terjemahan Kae Josy. Demikian, Terus Berubah-Tetap Setia: Dasar, Pola Konteks Misi (2023), Kekristenan di Asia: Inkulturasi, Dialog Antar Agama dan Pembebasan Paripurna (2025).

Tak terbilang judul artikel yang telah diterjemahkan Kae Josy. Demikianpun buku-buku yang ia hasilkan. Bila dibuat perhitungan, dari junlah karya, Penerbit Ledalero identik dengan Kae Josy. Ia menjadi salah satu tonggak penting untuk menyanggah lembaga itu. Ia meyakini bahwa Ledalero akan menjadi mercusuar ilmu yang akan terus menerangi kehidupan.

Awal lahirnya Jurnal Ledalero, Kae Josy adalah salah satu pembaca karya yang masuk dan menerbitkannya setelah diedit dengan kemampuan profesionalnya. Banyak kisahan atas perjalanannya itu.

Ia juga memberi motivasi kepada banyak pihak untuk menulis dan memublikasikan buku, termasuk para mahasiswa. Saya ingat buku pertama Dr. Max Regus berjudul: Republik Sialan, diterbitkan oleh Penerbit Ledalero. Pada masa berikutnya, fase baru muncul. Banyak penulis muncul dan Penerbit Ledalero tak kurang judul terbitan setiap tahun. Begitu pula tahun 2008 saya berkesempatan menerbitkan buku pertama, Menjadi Abdi Menghalau Gelap Budi Menyingsing Fajar Pengetahuan. Buku ini diterbitkan secara bersama oleh Penerbit Ledalero dan STKIP St. Paulus. Buku dengan 500 halaman berisi antologi artikel pelbagai disiplin ilmu: pendidikan, filsafat, teologi, budaya dan bahasa.

Foto: Buku asli dan terjemahan Kae Josy Florisan.

Bahasa yang Puitik

Pernah saya menyangsikan apakah bahasa tulisan aslinya sebagus terjemahan yang dibuat Kae Josy? Saya berusaha menyandingkan sumber asli dengan hasil terjemahannya ketika saya mendapatkan naskah aslinya. Mengagumkan! Itu bahasa yang tepat. Satu hal yang harus diakui bahwa Kae Josy memiliki kemampuan mengonstruksi bahasa yang indah, mendalam, penuh makna dan tak lupa: sangat puitik.

Sepengetahuan saya, ada dua orang dari Ledalero yang punya kemampuan berbahasa seperti ini: P. John Prior dan Kae Josy. Suatu kali, ketika sempat mengunjungi Ledalero, saya datang menjenguk Kae Josy di kantornya. Saya bertanya soal keindahan bahasa P. John Prior pada judul-judul  artikel dan bukunya, apakah itu benar bahasa P. John ataukah racikan Kae Josy. Kae Josy tertawa terbahak-bahak, sambil sesekali menyulut rokok dengan api.

Kae Josy pencinta bahasa Indonesia. Ia memunculkan kata-kata yang tak lagi lazim dipakai. Konstruksi kalimatnya sangat indah, renyah dan terasa hidup. Ia menjadikan bahasa sebagai syair yang selalu menawan hati dan mantra yang memberi daya hidup bagi cakrawala intelektual.

Akhir Ziarah

Diskusi tentang bagaimana nasib pekerja pada lembaga gereja pernah mengemuka sambil kami minum kopi. Ironisnya, nasib pekerja di lembaga gereja belum menyentuh harapan Ajaran Sosial Gereja. "Rumusan yang indah, namun praktiknya belum sampai ke sana", komentarnya.

Mungkin peziarahannya berkutat dengan kata-kata dan rumusan ajaran gereja belum menjumpai persambungan yang lindan dengan kenyataan. Sebuah ironi sekaligus makian yang mengesalkan.

Saat-saat terakhir hidupnya, ia berhadap-hadapan dengan penyakit gula. Pencinta sepak bola itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam duka. Kae Josy, selamat jalan, semoga Kae Josy berjumpa dengan Dia yang kita imani dalam sukacita.***

 


Comments

Popular posts from this blog

RITUS TEING HANG ORANG MANGGARAI[1] (Sebuah Studi Awal Untuk Mencari Pertautannya dengan Inkulturasi Iman Kristen)

Asal Usul Orang Manggarai-Flores-NTT

Drs. Donatus Hargens, Lelaki Dengan Garpu Tala: In Memoriam