Senin, 04 April 2011

KOTBAH YANG MENGALIR DARI KEDALAMAN BATIN Urgensitas Meditasi Dalam Kehidupan Imam

Abstract:

One of the fundamentally priest’s role is to become the preacher of the Good News, become a prophet of voicing out loud in the name of the God. The priest attends to set the human beings free from sin’s entanglement and to take them on toward salvation through the light of the Word. But the challenging problem is how to create a preaching with a right goal, how to create a preaching being solid in content, what is the best method in delivering it that people understand what is being preached. This writing intends to analyze a preaching that is valued unmerging people’s need in one hand and the need for arrangement as another by offering solution through meditation to fill the deep significance of the preaching.


Key-words:

Meditasi, Kotbah, Imam, Kedalaman batin.

1. PENGANTAR: IMAM SEBAGAI PEWARTA SABDA

Para Imam berdasarkan sakramen Tahbisan berpartisipasi dalam satu-satunya imamat Kristus, Kepala dan Gembala. Kristus adalah satu-satunya Imam, Nabi dan Raja. Identitas dan misi Yesus ini diteruskan atau dilanjutkan juga oleh para imam melalui tahbisan suci. Masih dalam alur maksud yang sama, Tuhan Yesus memanggil dan mengutus para rasulNya ke seluruh dunia.[1] Yesus bersabda, “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarilah mereka melakukan segala segala sesuatu yang telah diperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman”( Mat 28:20). Sabda Yesus ini umumnya dilihat Gereja sebagai sebuah basis pemahaman untuk memberikan diri ke dalam pelayanan imamat yang pada akhirnya bermuara kepada keselamatan umat manusia seutuhnya.

Dalam Dekrit tentang pelayanan dan kehidupan para Imam (Presbyterorum Ordinis) dijelaskan bahwa para imam, yang dipilih dari antara manusia dan ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, untuk mempersembahkan persembahan dan korban bagi dosa-dosa, bergaul dengan orang-orang lain bagaikan dengan saudara-saudari mereka.[2] Karena itu fokus pelayanan para imam menjadi jelas yakni: mereka dipanggil untuk hidup bersama dengan orang lain, bukan dalam keterpisahan, sebab esensi panggilan mereka, selain “ada” yang berasal dari Allah (man of God), juga sekaligus “ada” untuk sesama (man for others) dalam bingkai cinta kasih pastoral.[3] Panggilan kepada cinta kasih pastoral yang mereka memiliki dimensi sosial (social dimension) yang mau tidak mau harus berhadapan dengan sesama. Sebab, jikalau ia hadir hanya untuk dirinya maka panggilannya menjadi nirmakna (meaningless).[4]

Meskipun sudah jelas bahwa panggilannya diarahkan untuk keselamatan manusia, namun itu tidak berarti ia imun terhadap pelbagai tanggapan atas pelayanan yang ia berikan. Tulisan ini berbicara tentang urgensitas meditasi dalam kehidupan imam. Terdapat asumsi bahwa kehidupan imam dan pelayanannya mesti mengalir dari sebuah hati yang hening dan tenang, yang “senantiasa merenungkan hukum Tuhan, siang dan malam”. Pada bagian pertama, dipaparkan sekilas tentang panggilan menjadi imam, bagian kedua merupakan pengungkapkan “suara umat” yang terbanyak diambil dari mass media, bagian ketiga tentang urgensitas meditasi dalam pelayanan seorang Imam, bagian keempat kesimpulan dan penutup.

2. KOTBAH IMAM: JEJAK-JEJAK YANG DIBAYANGI KELUHAN[5]

2.1. Penilaian Umat atas Kotbah Imam

Kehidupan Imam tidak pernah sepi dari berbagai tanggapan: entah itu kritik, celaan maupun sanjungan dan puji-pujian. Cara menyampaikannya juga bermacam-macam: mulai dari gosip murahan pada saat bertemu, percakapan resmi dalam pertemuan pastoral sampai pada penyampaian lewat media massa. Kesadaran ini menyodorkan satu kenyataan bahwa imam dan kehidupannya selalu mendapat perhatian dari hampir semua pihak, khususnya umat Katolik. Secara positif dapat dikatakan bahwa dari fenomena ini dapat dilihat dimensi tanggung jawab etis umat dalam menghargai imamat dan memberikan tempat yang terhormat atasnya.

Ada begitu banyak segi kehidupan dan pelayanan imam yang mendapat sorotan umat. Jika diurutkan jumlahnya sangat banyak. Hal berikut adalah tema yang sering mendapat sorotan umat, berkaitan dengan hidup dan perilaku Imam, gembala mereka yakni kotbah.

Salah satu tugas imam yang paling penting ialah menjadi pembawa Kabar Gembira, menjadi nabi yang bersuara atas dan dalam nama Allah. Imam hadir untuk membebaskan manusia dari kungkungan dosa dan membawanya menuju keselamatan melalui terang Sabda. Tetapi yang menjadi kendala ialah bagaimana menghasilkan sebuah pewartaan yang tepat sasar, bagaimana menghasilkan sebuah kotbah yang berisi, bagaimana metode yang paling baik dalam menyampaikannya supaya umat memahami apa yang diwartakan. Persoalannya lebih kepada isi dan metode penyampaiannya. Dalam banyak kesempatan, umat mengatakan bahwa kotbah para Pastor sering tidak menjawabi kebutuhan real mereka, tidak sesuai konteks zaman.[6] Belum lagi dikeluhkan tentang kotbah yang terlalu panjang, berbelit-belit dan tidak sistematis,[7] menjemukan, tidak menarik, hanya mengulangi bacaan Injil[8], hanya membaca ulang kotbah yang sudah dibuat pada waktu yang lalu[9], dsb.

Atas keluhan yang ada ini, terdapat berbagai tanggapan yang muncul sebagai reaksi, entah spontan maupun terencana. Ada umat tertentu yang mencari informasi tentang siapa yang memimpin perayaan Ekaristi di parokinya. Jika imam itu mempunyai kemampuan untuk membawakan kotbah yang menarik maka ia akan merayakan misa di parokinya. Jika yang memimpin adalah mereka yang diklasifikasikan dalam tipe “tak menarik” maka mereka akan pergi ke tempat lain: kapela stasi lain dalam paroki, kapela-kapela biara ataupun ke gereja paroki lain. Selain itu, ada umat yang malas ke Gereja dengan alasan bahwa kotbah imam hanya “yang itu-itu saja”, tidak ada perubahan metode dan balutan isinya tidak variatif.

Efek dari kenyataan ini ialah lahirnya suatu perbandingan spontan antara imam yang satu dengan imam yang lain, hanya berdasarkan kotbah. Imam yang berhasil memikat hati umat dengan kotbah yang “menarik dan menawan” dianggap lebih baik daripada yang sebaliknya. Selain itu, kebanyakan imam-imam tua yang telah kendur semangatnya dalam berkotbah “dihindari” oleh umat, dalam arti tidak diharapkan untuk merayakan Ekaristi hari itu. Sedangkan imam-imam muda yang “prematur menjadi tua” yang berpenampilan seperti imam tua-tua dicemoohkan sebagai “yang tak memiliki semangat pelayanan, yang tidak kreatif, terlalu cepat menjadi kakek,” dsb.

2.2. Beberapa Catatan Kritis dari Umat atas Penilaian Umat

Menyikapi berbagai kritikan yang berasal dari sebagian umat atas cara imam berkotbah, beberapa umat lain memberikan catatan kritis atas tanggapan-tanggapan itu. Pertama, Sambil mengutip Kanon 769: “hendaknya ajaran Kristiani disajikan dengan cara yang sesuai dengan keadaan para pendengar dan yang memadai kebutuhan-kebutuhan zaman”, Christ Widya Utomo berkomentar bahwa sangatlah penting untuk hirau terhadap konteks umat dan zaman yang sedang berkembang. Terhadap tema-tema tertentu, jika ada yang lebih berkompeten, khususnya awam, bisa juga diberikan kesempatan untuk berbicara.[10]

Kedua, tanggapan yang lebih tajam datang dari J. Soedjati Djiwandono. Menurut Soedjati sebagai umat, kaum awam perlu mawas diri. Hal pertama, apakah keluhan-keluhan serupa itu tidak menunjukkan bahwa kotbah bukanlah hal esensial atau inti perayaan Ekaristi, yang dapat berlangsung tanpa kotbah? Hal kedua, apakah selama ini kita menganggap kotbah di gereja selama perayaan Ekaristi sebagai satu-satunya sumber inspirasi spiritual atau rohani, pengetahuan, penguatan, dan pendalaman iman? Apakah kita kurang menyadari bahwa terdapat sumber-sumber dan cara-cara lain untuk itu semua, seperti belajar sendiri melalui baca (misalnya tentang ajaran sosial Gereja), refleksi, berpikir atau berdiskusi dengan orang lain? Hal ketiga, apakah kita termasuk orang awam yang cengeng, yang kurang mandiri, terlalu menggantungkan diri pada imam (di paroki), misalnya harus menghadirkan imam setiap kali kita melangsungkan berbagai macam rapat, diskusi, dsb., sehingga imam kita kekurangan waktu untuk belajar, termasuk sebagai bagian untuk mempersiapkan kotbah? Apakah kita menyadari bahwa seorang imam, sebagaimana orang-orang lain, perlu selalu belajar, menambah pengetahuan, memperdalam pemahaman tentang berbagai masalah, dan menambah berbagai macam keterampilan? Hal keempat, umat Katolik zaman sekarang sudah jauh lebih maju. Tetapi kemajuan itu tidak merata. Oleh sebab itu, apalagi dengan semakin tingginya mobilitas horisontal maupun vertikal dalam masyarakat, umat Katolik, terutama di kota-kota besar, semakin beragam dari segi sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Sebab itu, tugas pelayanan seorang imam (khususnya di paroki) juga semakin berat, apalagi dengan semakin berkurangnya jumlah imam dibandingkan dengan jumlah umat. Bertambah beratnya tugas ini mencakup juga tugas berkotbah. Pada kelompok mana kotbah harus difokuskan? Suatu kotbah[11] mungkin cocok bagi kelompok tertentu, tetapi belum tentu hal itu diterima secara sama oleh kelompok lain, karena alasan perbedaan latar belakang. Sebab itu kotbah yang “baik” atau yang “membosankan” dan “kurang menarik”, mungkin sekali tidak berlaku bagi semua umat. Sebagai solusi atas masalah itu, Soedjati menawarkan gagasannya supaya umat harus lebih berperan, “pro aktif” dalam membangun dan membina imannya. Citra lama seakan-akan imam itu selalu paling suci, pintar dan benar seharusnya tidak ada lagi. Dan Imam sendiri jangan sampai “termakan” atau bahkan secara tidak sadar ikut menciptakan mitos seperti itu.

Ketiga, J.B. Komang dalam menanggapi “debat” seputar kotbah imam coba memberikan solusi alternatif dengan disediakannya tempat khusus untuk homili dalam mass media, misalnya Mingguan HDUP. Alasannya jelas, dengan adanya kolom yang demikian, umat bisa membaca homili tersebut untuk selanjutnya direnungkan dalam kehidupan real. Persoalan baru muncul: siapa orang yang berkompeten yang akan menangani kolom tersebut?[12] Pemikiran ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sudah sejak lama beberapa imam dari berbagai kongregasi[13] dan keuskupan[14] telah membaca peluang itu dan menulis buku tentang homili dan kotbah. Bahkan situs-situs kotbah di intenet juga semakin banyak disediakan dalam berbagai bahasa dan dengan mudah diakses.[15] Atau juga renungan-renungan singkat yang diracik dengan gaya yang sederhana tetapi menawan, melalui buletin-buletin paroki atau yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok studi.[16]

2.3. Nilai yang bisa Dipetik

Setiap kritikan umat terhadap perilaku imam dan bagaimana ia menghayati spiritualitas imamatnya, tentu didasarkan oleh rasa cinta dan sayang yang dibalut oleh kesadaran bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun dan mengembangkan Gereja Kristus. Kritikan semacam itu mesti ditanggapi secara bijaksana, penuh kerendahan hati, seraya mengakui bahwa sebagai manusia, seorang imam juga mempunyai kelemahan kodrati. Kritikan umat tentang kotbah juga tak bisa dipandang sebagai tanda yang mengindikasikan bahwa kehadiran seorang imam ditolak oleh umatnya. Seorang imam pada gilirannya mesti memiliki pemikiran yang positif bahwa setiap kritikan itu berdaya konstruktif, dan membuat ia semakin berusaha, terlecut untuk membaca, merenungkan Sabda Tuhan dan membuat aplikasi praktis bagi umatnya.

Kembali ke soal klasik tadi: bagaimana meracik sebuah kotbah yang “berisi” sekaligus disajikan dalam “metode” yang menarik? Ada banyak cara yang ditawarkan. Pada kesempatan ini, fokus perhatian kita hanya diarahkan kepada urgensitas meditasi bagi seorang imam, khususnya dalam mempersiapkan kotbah.

3. KOTBAH YANG MENGALIR DARI KEDALAMAN BATIN: ARTI PENTING MEDITASI DALAM KEHIDUPAN SEORANG IMAM

3.1. Apa itu Meditasi?

Sesuatu menjadi jelas jikalau diberi arti, dijelaskan pengertiannya atau paling kurang membuat sebuah identifikasi yang sahih atasnya. Itulah kecenderungan yang terjadi dalam dunia intelek. Definisi lalu menjadi penting. Namun ternyata tidak semua hal bisa menjadi lebih jelas jikalau didefinisikan. Meskipun demikian, tetap ada usaha membuat penjelasan, walaupun ada kejamakan dalam perspektif: Budhisme,[17] Hinduisme, Kristen,[18] Islam. Menurut Naomy Humphrey, membuat sebuah definisi untuk meditasi justru akan mempersulit daripada membantu. Terkadang kata-kata menghalangi arti dan bukan menyingkapnya. Sambil mengutip Chuang-tzu, guru besar Tao abad ke-14, ia mengatakan, “kata-kata ada untuk memberi arti, namun sekali saja engkau memahami arti tersebut, engkau dapat menyingkirkan kata-katanya”.[19]

Mengatasi kesulitan itu, Naomi membuat deskripsi yang mendekati kebenaran tentang meditasi. Pertama, meditasi sebagai suatu keadaan kesadaran. Meditasi merupakan kegiatan mental yang berkenaan dengan kesadaran. Dalam hal ini, kesadaran tidak ada kaitannya dengan kemampuan intelektual, latar belakang pendidikan ataupun kepribadian. Meditasi dapat dianggap sebagai kesadaran atau persepsi total. Bermeditasi tidak sama dengan berpikir mengenai sesuatu secara intelektual. Kedua, meditasi sebagai jalan kehidupan spiritual. Pada saat meditasi telah terintegrasi ke dalam pola hidup sehari-hari, meditasi akan menjadi bagian alamiah dari hidup sehari-hari. Meditasi bukan lagi sekedar latihan atau pengalaman kesadaran yang diubah. Meditasi mempunyai kekuatan untuk mengubah semua aspek kehidupan: berpikir, merasa, melakukan dan mengenal. Meditasi menanam benih untuk pencerahan dan menjadi jalan hidup; lebih dari itu, meditasi adalah jalan spiritual.[20]

The Concise Columbia Encyclopedia[21] menjelaskan meditasi sebagai displin religius, aktivitas mana pikiran dibimbing kepada fokus tertentu. Itu mengandaikan keterlibatan rahmat Ilahi, sebagaimana kontemplasi dalam tradisi mistik kristiani. Yang jelas ada tema spiritual, pertanyaan, masalah atau bahkan juga pencapaian persatuan dengan Yang Ilahi melalui visualisasi atau pengulangan doa dalam batin.

Dalam tradisi Kristen, meditasi dilihat sebagai suatu sikap hening di hadapan Allah, untuk merenungkan cintaNya yang teramat besar, mengalaminya dan berusaha bersatu dengan cinta Allah itu. Itu berarti sebuah tindakan melihat ke dalam diri sendiri untuk menemukan Allah dalam kedalaman keberadaanNya, Allah yang adalah interior intimo.[22] Selain itu, meditasi, meminjam istilah Paus Pius XII, juga merupakan sebuah aksi mengangkat budi kepada perkara-perkara surgawi dan membimbingnya kepada Allah, memurnikan budi, memimpin afeksi dan mengarahkan tindakan.[23]

3.1. Mengapa Meditasi Penting?: Belajar dari Kehidupan Yesus

Yesus, sebagai seorang Guru sejati, menempatkan meditasi dan doa dalam posisi yang sangat penting dalam hidupNya. Hal ini secara eksplisit diungkapkan oleh para penginjil: “…mengasingkan diri ke tempat yang sunyi[24]; marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri ke tempat yang sunyi[25]; Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa[26]; Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi untuk berdoa[27]; pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa”.[28] Ada beberapa catatan dari pola hidup Yesus ini:

Pertama, Sebelum menjalankan tugas perutusanNya, Yesus berpuasa di padang gurun selama 40 hari-40 malam.[29] Yesus memulai karyaNya dalam sebuah keheningan dan kesunyian. Dalam keheningan dan kesunyian, visi dan misi cenderung lebih mudah ditemukan dan diarahkan. Memang ada tantangan untuk mengarahkan secara salah apa artinya menjadi utusan. Tetapi hati yang selalu hening, dalam diam yang diliputi oleh terang Ilahi, sanggup memutuskan dengan tepat apa yang terbaik.

Hal itu berlanjut tatkala Yesus sudah berkarya: sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu pelayanan, Ia selalu pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa, bermeditasi. Karya Yesus, dalam berbagai bentuknya mengalir dari hati yang hening yang disertai pertimbangan bijaksana untuk menyatakan dengan penuh kasih, lembut sekaligus tegas kehendak BapaNya di tengah manusia dan dunia. Dengan kata lain, hidup Yesus oleh caraNya “menarik diri” dari kehidupan ramai, mengalami ketenangan batin, selalu menimba inspirasi baru, pada akhirnya, selalu memiliki orientasi theosentris (God centered-berpusat pada Allah), bukan diriNya sendiri (self-centered). Karena itu, karya Yesus baik dalam pewartaan maupun pelayananNya merupakan eksplisitasi dari pelaksanaan kehendak Bapa.[30]

Kedua, Meskipun ada kesan bahwa “pengunduran diri Yesus” ke tempat yang sunyi lebih menekankan soal “locus” (kesunyian atau keheningan lahiriah) tetapi sebenarnya tidak hanya berhenti sampai di situ. Keheningan batin bisa dirasakan di mana-mana, tanpa ada garis demarkasi yang tajam. Namun adalah sesuatu yang wajar, jika kehadiran kita di tempat yang sunyi, tenang lebih menjanjikan suasana yang kondusif daripada di tempat yang ramai, walaupun hal itu bukan tak mungkin.[31] Jika seseorang dapat membuat spiritual discernment (pemindaian Roh) secara otomatis, dalam waktu yang relatif singkat, itu lebih merupakan buah yang dituai atas usaha yang terus-menerus menceburkan diri ke dalam keheningan batin dan kedekatan yang intim dengan Allah.

Ketiga, tatkala berhadapan dengan orang Yahudi, khususnya pemimpin agama, orang Farisi dan ahli Taurat, Yesus selalu menjawab pertanyaan mereka dengan singkat, jelas tetapi tepat sasar. Ketika Ia berkotbah, kata-kataNya mengalir, memberikan daya yang sangat kuat sehingga orang-orang mengikuti Dia, bahkan ke mana saja Ia pergi.[32] Kata-kata yang keluar dari mulut Yesus tentu bersumber pada keheningan batin yang dimilikiNya. Kata-kata itu secara spontan keluar untuk memberikan ketenangan, penghiburan, kedamaian, kepastian, pengharapan dan kebahagiaan, singkatnya keselamatan bagi mereka yang percaya kepadaNya.[33] Daya “Kata-kata” (Sabda) Yesus yang telah ditulis dalam Kitab Suci, tetap bergema dan memiliki pengaruh bagi manusia hingga saat ini dan akan tetap mempunyai kekuatan sampai kapanpun.

3.2. Meditasi Dalam Kehidupan Imam

Dalam usaha membangun hidup rohaninya, seorang imam sudah sewajarnya membaca Sabda Allah dalam suasa doa dan meditasi, misalnya melalui metode Lectio Divina.[34] Melalui jalan ini imam mendengarkan Dia yang bersabda dengan rendah hati dan penuh kasih.[35] Berkotbah merupakan satu bentuk pewartaan khas Imam. Kotbah merupakan pewartaan Sabda Allah dengan cara memaklumkannya secara aktual, sehingga mereka merasa dan mengalami bahwa Allahlah yang tengah berbicara kepada mereka. Hal ini menjadi mungkin karena Imam telah lebih dahulu mengalami Allah dalam keheningan batinnya lalu mengalir keluar lewat kata-kata pewartaan dan seluruh sikap hidupnya. Morton T. Kelsey berkata, “tidak mungkin seseorang melayani Allah, untuk berbicara tentang realitas spiritual kepada manusia modern tanpa kedekatan dan mengalami sendiri Allah dalam hidupnya”.[36]

Dalam permenungannya, Rm. Dr. Hubertus Leteng Pr memberikan dua makna bagi meditasi untuk menghidupkan api spiritualitas hidup seorang imamat. Dua point itu juga akan menuntun kita melihat peran meditasi dalam membangun kotbah yang bisa berbicara kepada umat dan mendarat di atas realitas kehidupan real mereka.

3.3.1. Meditasi sebagai Momentum Perjumpaan dengan Realitas Jamak (diri, lingkungan, sesama dan Tuhan)

Melalui aktivitas meditasi, seorang Imam berhadapan dengan realitas yang jamak, kenyataan yang tidak pernah bersifat tunggal. Imam sebagai manusia berhadapan dengan pelbagai kemungkinan obyek yang ditemukannya. Ada beberapa pemikiran berkaitan dengan hal ini. Pertama, Dalam meditasi ia menarik semua kenyataan itu ke dalam dirinya, merenungkannya dan merasakan getaran eksistensi setiap obyek itu dan kemudian memberikan tanggapan atasnya secara khusus. Johnanes B. Lotz mengatakan bahwa meditasi juga mengantar manusia untuk kembali kepada dirinya yang paling dalam dan unik, kepada pusat pribadinya, di mana ia sepenuhnya menjadi diri sendiri, kepada kemerdekaan pribadi, di mana ia sepenuhnya memiliki dan menentukan diri sendiri, serta memberi dirinya itu karakter yang paling dalam. Dengan demikian, bermeditasi secara essensial berarti menjadi diri sendiri, bukan sebagai suatu kesenangan erotik dalam memandang diri sendiri, melainkan sebagai sebuah upaya untuk mencapai diri sendiri dan beristirahat dalam diri dan dengan diri. Dengan upaya itulah tata tertib dasar dari hidup manusia diwujudkan.[37]

Setiap orang yang sanggup masuk ke dalam diri sendiri, berupaya untuk memahami siapakah dirinya yang sesungguhnya, akan semakin mampu memahami orang lain, lingkungan dan Allahnya. Ketidakmampuan untuk menerima diri sendiri membuat banyak orang jatuh ke dalam idealisme, mimpi dan khayalan yang berlebihan dan akhirnya meraih absurditas dalam hidupnya. Barangkali orang yang menjadi gila lebih disebabkan oleh ketidaksanggupan mereka untuk mengorganisir keinginan, cita-cita, kehendak dan kemauan mereka secara baik. Atau juga mereka yang menjadi “pribadi sulit”. Dalam dunia filsafat, Sokrates pernah berujar, “gnoti seauton” untuk menegaskan bahwa hidup perlu direfleksikan, direnungkan terus menerus untuk menemukan maknanya.

Melalui meditasi, seorang imam memiliki kerelaan untuk menerima diri sendiri: kelemahan dan kekuatannya, kekurangan dan kelebihannya. Menerima diri dengan rela adalah jalan lapang yang membebaskan dirinya dari segala bentuk idealisme yang keliru, khususnya ketika ia menemukan bahwa ternyata ia memiliki kekurangan dan kelemahan di dalam dirinya. Meditasi membuat ia semakin yakin bahwa dirinya, dari asalnya, adalah berarti, memiliki keunikan dan serentak keistimewaan. Oleh karena kesadaran diri bahwa ia berarti, ia juga termotivasi untuk menerima tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya. Tugas kotbah pada gilirannya, adalah sebuah anugerah, bahwa Tuhan memperkenankan dirinya untuk menjadi pewarta, “mulut Allah” yang menyampaikan sabdaNya. Kotbah yang lahir dari ketulusan dan kerelaan sangat kentara: tenang, berwibawa, memiliki penekanan-penekanan yang terasa jelas dan cenderung padat-berisi. Kotbah yang lahir dari kerelaan, juga disertai rasa tanggung jawab memiliki karakter sbb: tidak tergesa-gesa atau merasa dikejar waktu, tak mau menyampaikan sesuatu asal-asalan, tidak bergairah, loyo, tidak memberikan banyak penyimpangan dari teks atau yang sama sekali tak dimaksudkan oleh teks, baik teks in se maupun interpretasinya.

Kedua, Meksipun mengenal diri sebagai bagian yang esensial, itu bukan berarti suatu sikap egois yang lupa akan realitas lain di luar dirinya sendiri. Manusia adalah makluk sosial (ens sociales) yang selalu berhubungan dengan “dunia luar”, termasuk dengan sesamanya. Ketika ia bermeditasi, ia mempertimbangkan isi pewartaannya, apakah sesuai dengan konteks pendengar, selaras dengan kemampuan menanggapi serta cocok dengan kebutuhan konkrit mereka? Jawaban atas berbagai pertanyaan ini bukan bagaimana merangkai kata-kata yang indah, puitis dan abstrak, melainkan apakah diksi (pemilihan kata) yang dipakai tepat sasar, menyentuh pemahaman dan terutama mencapai kebutuhan mereka.

Pada akhirnya, kotbah yang baik bukan dinilai dari soal kelogisan, kerunutan ide, keabstrakan cara menyampaikan serta penggunaan kata-kata yang bombastik. Kotbah yang baik, dengan bahasa dan cara yang sederhana mesti menimbulkan kesan tertentu di dalam hati pendengar. Itu berarti, bukan suatu tawaran ide yang instan, melainkan sebuah “lemparan” Sabda Tuhan yang memunculkan refleksi baru di dalam benak mereka dan atas jawaban yang mereka temukan sendiri, mereka memutuskan apa yang hendak mereka lakukan dalam kehidupan, sesuai dengan inspirasi Sabda itu.

Jika setiap kotbah mempertenggangkan kepentingan umat, maka refleksi yang dibangun dalam meditasi selalu bersifat dan berorientasi sosial, bukan individualistik. Ketika imam mulai mencari dirinya sendiri dengan tujuan supaya menjadi terkenal, jadi pahlawan, tanpa mempertimbangkan dengan bijak efek kata-katanya, lalu mulai mengkotbahkan sesuatu yang tak bisa dipahami umat, maka di saat itulah ia sebenarnya kehilangan identitas, jati diri sebagai gembala yang mewartakan Sabda Tuhan. Juga tatkala imam terlibat dalam arus perdebatan politis, membela kelompok tertentu serentak mengenyahkan kelompok yang lain, ia sebenarnya tidak membawa suara Tuhan, tetapi suaranya sendiri yang “dipaksa” untuk dijadikan sebagai seruan profetis, meski dalam kenyataan akhirnya kandas juga.

Ketiga, Imam adalah seorang yang dipanggil dan diutus untuk melaksanakan kehendak Allah. Seperti Kristus utusan Bapa, tidak melaksanakan kehendakNya sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengutusNya, demikian juga seorang imam. Seorang imam tidak mencari dan melaksanakan kehendaknya sendiri. Kehendak Allahlah yang menjadi keutamaan seorang Imam, kesempurnaan hidupnya, panduan tingkah lakunya, yang terungkap dalam setiap sabdaNya sebagai mana dikatakan dalam Dei Verbum, adalah “santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani bagi manusia”.[38]

Melalui meditasi kerelaan, ketulusan dan kesetiaan mendengarkan Sabda Allah membuat imam dalam kesehariannya selalu merindukan kehendak Allah, sebagaimana Kristus yang menjalankan misi dan tugas perutusanNya dalam kerangka itu. Itulah sebabnya mengapa seorang imam yang demikian selalu berkata dalam hatinya seperti sebuah Lagu dalam Ekaristi, “bersabdalah ya Tuhan, aku abdiMu bersedia mendengarkannya”. Atau seorang musafir yang mencari Allah dalam tulisan St. Yohanes dari Salib: “Di manakah Engkau bersembunyi Kekasih? Aku tertinggal mengeluh! Kau lari bagai rusa; dan hatiku terluka: Aku kejar memanggil yang hilang”.[39] Menjadi “terluka” karena kesan yang yang ditimbulkan Allah, ada akibat langsung dari pengalaman akan cinta Allah. “Luka” itu menjadi sebuah kerinduan abadi untuk tetap merasakan kehadiranNya, untuk selalu mendengarkan sabdaNya.

Hati yang mendengar dengan tulus Sabda Tuhan akan menjadi lahan di mana Sabda akan bertumbuh subur dan berkembang hingga memperoleh banyak hasil saat dituai dalam rangkaian kata-kata kotbah. Ketika di dalam hati “Tuhan dan suaraNya telah kabur”, maka yang keluar dari mulut saat mewartakan ialah kata-kata yang cenderung menghakimi, memarahi dan menghindari Sabda Pengharapan yang dapat memberikan kesejukan bagi para musafir dan kembara di padang peziarahan yang merayakan Ekaristi dalam keseluruhan hidup mereka.

Sebagai seorang pewarta, “berbahagialah orang yang mengisi tabung panahnya sampai penuh. Ia tidak akan dipermalukan oleh musuh…”[40] Tabung panah kita adalah hati yang selalu dikosongkan dan kemudian untuk diisi oleh Allah dan sabdaNya. Anak panah “Sabda” itulah yang dilontarkan ke hadapan hati dan hidup umat beriman. Lontaran yang tepat: melalui kata-kata yang keluar dari kedalaman hati yang penuh cinta dan keintiman dengan Sang Sabda, dan sasaran yang telak: umat yang telah dipahami konteksnya, masalah konkritnya dan kesanggupan mereka untuk menerima merupakan jalan menuju kotbah yang “mendarat” sekaligus menarik.

3.3.2. Meditasi sebagai Momentum Pertobatan dan Rekonsiliasi

Kotbah merupakan buah dari sedimentasi yang solid antara Sabda Allah. Kotbah kehidupan memiliki kekuatan untuk mengubah. Ia mengubah orang yang mendengarnya, tetapi sekaligus mereka yang menyampaikannya. Kata-kata memiliki kekuatan. Setiap kata mempunyai arti. Pada arti yang tercipta itu terletak kekuatan kata.[41] Begitu seorang imam mewartakan tentang kerajaan Allah, ia sendiri mesti hakul yakin bahwa kerajaan Allah itu sungguh ada dan tersedia untuk mereka yang telah percaya.

Dalam kenyataan, Imam sebagai seorang manusia tidak terlepas dari kelemahan manusiawi yang menyertai hidupnya. Ia memiliki keinginan, cita-cita dan bayangan tertentu tentang jabatan dan tugas pelayanannya. Tak jarang ia bisa jatuh dalam penghayatan yang keliru, terbius trend zaman yang berorientasi materialistis: turut serta dalam berbagai usaha ekonomi pribadi, terlibat dalam MLM (multi level marketing)[42], dsb. Ia juga bisa terpuruk dalam kenyataan yang membiusnya untuk selalu tampil sesuai mode yang sedang berkembang. Bahkan ia bisa merelakan banyak waktu yang ada hanya untuk menonton TV, misalnya. Kemajuan media komunikasi yang sangat pesat membuat imam juga terhempas dalam pusaran HP (hand phone), sehingga tak jarang banyak waktu dipergunakan untuk memencet tombol mengirim SMS (short message service), daripada membaca buku rohani, membuat permenungan pribadi atas masalah aktual umat, membuat evaluasi atas kotbah-kotbah yang telah dibawakan dan dibagikan kepada umat atau mengadakan kunjungan pastoral ke rumah atau lingkungan yang miskin dan dililiti pelbagai persoalan.[43]

Meditasi menyadarkan imam untuk merefleksikan kembali motivasi menjadi imam, melihat secara jujur komitmen pelayanannya, praksis pastoralnya, visi dan misi Kristus yang diembannya. Ia diajak untuk “kembali” ke “pelataran kudus”, berani membuang pikiran, keinginan-kehendak serta perbuatan yang tidak sesuai dengan orientasi hidupnya sebagai seorang imam. Dengan kata lain, ia mesti ber-metanoia: berani secara radikal mengubah hidupnya yang tidak sesuai dengan esensi panggilannya menuju kepada cara hidup baru, cara hidup dalam Roh. Ia mesti bertobat dari cara hidup yang menganggap enteng tugas kotbah. Ada anggapan yang kuat bahwa kotbah itu semacam bagian tambahan, siap atau tidak, no problem. Atau ada pastor tertentu menganggap bahwa apapun yang disampaikan imam, umat harus dengar, suka atau tidak suka.

Ada saatnya hidup rohani menjadi kering, pelayanan jadi kacau, arah tidak lagi begitu jelas, meski sudah berusaha mati-matian menjalankan tugas dengan baik, sepenuh hati dan tulus. Meditasi tidak jalan, doa terasa hambar. Kesulitan itu sering terjadi karena meditasi terlalu banyak menggunakan pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan kita sendiri yang kerap jauh dari apa yang sedang kita pikirkan, bayangkan atau lakukan.[44] Inilah pengalaman yang disebut St. Yohanes dari Salib sebagai “malam gelap”, sebuah jalan yang mesti dilewati jika ingin bersatu dengan Sang Kekasih (Allah). Berkomentar tentang hal ini Yohanes mengatakan bahwa buah-buah yang paling baik tumbuh di atas tanah yang dingin dan kering. Dalam meditasi, kekeringan tersebut menghasilkan kerendahan hati, keuletan, ketenangan dan kehendak untuk tetap bertahan dan terus berusaha mengembangkan kehidupan batin setiapkali menghadapi rintangan. Boleh jadi meditasi kita menjadi prosais dan pucat. Namun itu tidak terlalu penting, kalau dengan bantauannya kita dapat menjalin hubungan antara akan dan kehendak kita di satu pihak dengan hal-hal ilahi di pihak lain, tidak peduli betapa kelam pandangan kita saat itu.[45] Pada saat hati dan budi dijejali pelbagai pikiran dan perasaan, pergumulan batin berjalan secara kritis. Ia mempertanyakan kembali motivasi, isi dan sikap pewartaan imam dalam kotbahnya. Pertanyaan-pertanyaan itu menghasilkan buah permenungan yang digodok dalam terang Sabda yang otentik-original.

Pada akhirnya ia memiliki sikap seperti Yesus. Ia merubah arah pewartaannya dengan meletakkan kehendak Allah sebagai pusat, bukan demi kepentingan pribadi, kelompok atau golongan tertentu yang terlimitasi oleh waktu. Karena jika itu yang terjadi, tidak ada dimensi keabadian dalam pewartaanNya. Ia menjadi sadar bahwa perjuangan Yesus adalah “mengubah perspektif” manusia tentang Allah dan keselamatan yang ditawarkanNya. Hal ini tampak nyata dalam segala perjuanganNya melawan para imam kepala dengan kepentingan politik mereka, melawan para farisi dengan gambaran mereka tentang Allah yang menekan rakyat jelata dan orang berdosa, melawan para murid yang mengharapkan seorang mesias yang bertindak dengan kekerasan dan mencari kejayaan politis. Yesus sesungguhnya melawan suatu semangat, suatu roh yang menjiwai dan menggerakkan semua manusia dan institusi manusia sehingga mereka bertindak atas suatu cara yang merusakkan kesejahteraan manusia yang benar dan dengan cara demikian menghalangi perkembangan Kerajaan Allah, menghalangi bertumbuhnya kesejahteraan manusia yang dinginkan Allah.

Mengubah perspektif secara benar adalah sebuah pertobatan. Pertobatan menyadarkan seorang imam bahwa “persembahan kepada Allah ialah jiwa yang menyesal” seraya percaya juga “hati yang remuk redam tak pernah Kau tolak”.[46] Ia akan menjadi sebuah rekonsiliasi bila ada kesediaan untuk mengakui bahwa ia kerap salah dalam menilai tugas pewartaannya, enggan untuk serius dan penuh dedikasi. Rekonsiliasi akan terwujud bila karena kesadaranya itu ia berubah dan semakin memperhatikan “pihak lain” yang menjadi sasaran pewartaannya, bukan demi dirinya sendiri. Inilah sikap “passing-over” (melewati tapal batas) untuk berani memahami orang lain dan menilik dari cara mereka memandang dan membawa mereka ke pemahaman yang benar.

Pada akhirnya, seorang imam yang menjadikan meditasi bagian dari hidupnya menghasilkan buah-buah padi Sabda Allah yang bernas. Kemauannya untuk terlibat bergumul dalam masalah aktual dan pembatinan peristiwa itu melalui meditasi memberi efek positif bahwa ia menyajikan Kabar Gembira yang berakar pada realitas umat. Karena itu, pernyataan St. Paulus kepada jemaat di Efesus hendaknya tetap menjadi pegangan bagi setiap pengkotbah: “Jangan ada kata buruk keluar dari mulutmu, melainkan hanyalah yang baik untuk membangun iman dan mendatangkan rahmat bagi para pendengar. Janganlah menyusahkan Roh Kudus Allah, sebab dalam Dialah kamu dimeteraikan untuk hari penyelamatan. Jauhkanlah dari kamu segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah serta segala macam kejahatan. Bersikaplah ramah seorang terhadap yang lain, berlakulah lembut hati dan hendaklah saling mengampuni, seperti Allah telah mengampuni kamu dalam Kristus”.[47]

3.3.3. Meditasi sebagai Momentum Transformasi

Para penulis rohani dan mistikus memandang meditasi sebagai bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia religius. Melalui meditasi, manusia dimungkinkan mengalami kedekatan yang intim dengan Tuhan. Menurut St. Teresa dari Yesus, semakin memasuki ruang batinnya, merefleksikan hidupnya ia akan semakin mencintai.[48] Manusia tidak hanya mencintai Tuhan dengan sepenuh hati tetapi ia juga berani mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri.[49]

Meditasi dan doa yang tak kunjung putus memungkinkan seorang imam ditransformasikan ke dalam cara memandang, cara berpikir dan cara bertindak Allah. Inilah yang kerap disebut sebagai kontemplasi, di mana terjadi persatuan kehendak antara manusia dan Allah dalam cinta. Sehingga benarlah kata St. Paulus, “…aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidup yang kuhidupi sekarang dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku…”[50] Proses transformasi ini terjadi kalau imam betul menjadikan kehendak Allah sebagai satu-satunya pegangan bagi hidup, misi dan karya pastoralnya. Melalui kotbah seorang imam menjadi “mulut Allah”[51] yang mewartakan SabdaNya. Dan imamlah yang mestinya menjadi pelaksana Sabda yang pertama sehingga dari penghayan pribadinya itu, ia memberikan teladan atau contoh kepada umatnya. St. Yakobus berkata, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja”.[52] Transformasi akan menjadi sebuah kenyataan yang kasat mata bila firman dan cara hidupnya menjadi satu.

4. PENUTUP

Meditasi adalah jalan menuju diri sendiri, sesama, lingkungan dan Tuhan. Imam sebagai gembala umat menjalankan meditasi dalam kesadaran bahwa aktivitas itu memiliki arti penting bagi perjalanan hidup rohaninya dan bagi karya pelayanannya di tengah umat. Salah satu tugas penting imam adalah mewartakan Sabda Allah, khususnya dalam bentuk homili atau kotbah.

Di tengah banyaknya kritikan yang hadir sebagai tanggapan terhadap isi dan cara berkotbah yang terkesan “tidak menarik”, seorang imam dipanggil untuk menarik diri ke dalam keheningan batin, membuat otokritik seraya melihat dari dekat tentang “kekurangan-kekurangannya”. Mengenal diri dengan baik melalui proses meditasi membuat seorang imam mampu dan sadar akan kemampuan dan kekurangannya, sehingga ia bisa realistis terhadap diri dan sesamanya. Pengenalan diri itu pula membawa rasa percaya diri sekaligus tanggung jawab untuk mewartakan dengan tulus, jujur dan penuh dedikasi.

Mengenal sesama dan lingkungan juga penting. Melalui meditasi, seorang imam dipanggil untuk berani “keluar dari diri sendiri”, coba untuk memahami umat dari perspektif mereka. “Keluar” untuk mengerti dan menyelami secara serius persoalan konkrit yang mereka alami, membuat permenungan atasnya lalu mencari solusi yang tepat sasar. Persoalan konkrit mereka dan jawaban aktual serta tepat sasar inilah yang menjadikan kotbah terasa “berarti” dan “mendarat”.

Meditasi juga membawa seorang imam ke hadirat Allah. Melalui doa dan meditasi yang berkesinambungan, imam akhirnya sadar akan kelemahan dan kekurangannya. Ia tahu bahwa ia lemah. Karena itu ia datang dengan “tangan kosong” ke hadirat Allah dan meminta agar Allah-lah yang mengisi kekosongannya.[53] Dengan jalan ini, ia sungguh menaruh kepercayaan akan belas kasih Allah dan kebaikanNya. Ia juga semakin yakin bahwa ia tidak bekerja sendirian, melainkan bersama Allah yang memberinya kekuatan. Ia menjadi begitu dekat dengan Allah, sebab Ia adalah interior intimo, Dia yang berada lebih dekat daripada diriku sendiri.[54] Mendengarkan Dia, menjalankan apa yang menjadi kehendaknya membuat seorang imam ditransformasikan ke dalam hidup Allah sendiri. Menjadi satu dengan Allah adalah pengalaman kontemplasi,[55] di mana imam dan Allah mengalami persatuan dalam cinta. Pengalaman persatuan dengan Allah inilah yang diwartakan oleh imam dalam kotbahnya. Ia tidak hanya mewartakan kata-kata kosong, tetapi sesuatu yang memiliki dasar kokoh dalam pengalaman konkrit. Kotbah yang berbicara dari pengalaman konkrit akan menjadi lebih hidup dan bermakna. “Kotbah hidup” imam sendiri juga menentukan, bahwa ia ternyata bukan hanya bisa berkata-kata tetapi juga sanggup menghayatinya dalam hidup. Adalah moment pertobatan yang perlu dibangun dalam meditasi jika ternyata antara Sabda dan penghayatan hidup imam terbentang jurang yang dalam.***


REFERENSI

DOKUMEN DAN BUKU:

Barry. William A. & Robert G. Doherty, Contemplative in Action. New York:

Paulist Press, 2002.

Carreto. Carlo, Kotamu adalah Gurunmu, terj. Andreas Tefa Sawu. Ende: Nusa

Indah, 1995.

_____________, In Search of Beyond. London: Darton, Longman and Todd,

1977.

de Meesters. Carlos, Lectio Divina, terj. Piet Go. Malang: Dioma, 1992.

de Meesters. Koen, Tangan Kosong-Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, terj.

Cyprianus Verbeek. Yogyakarta: Kanisius, 1984.

Hardawiryana. Robert (penterj.), Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor,

1992.

Humphrey. Naomi, Meditasi Jalan Ke Dalam Diri. Jakarta: Abdi Tandur, 2000.

Jager. Willigis Contemplation A Christian Path. Misouri: Triumph Books, 1994.

Kelsey. Morton T., Companion on the Inner Way: The Art of Spiritual Guidance.

New York: Crossroad Publishing Company, 1983.

Lalu. Yosef, Inilah Puteraku Terkasih, Homili Tahun C. Ende: Nusa Indah, 1985.

_____________, Tuhan segala Bangsa, Homili Tahun B. Ende: Nusa Indah,

1984.

Leteng. Hubertus, Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam.

Maumere: Ledalero, 2003.

_____________, Cinta Kasih Pastoral Seorang Imam: Pedoman Penghayatan

dan Pengamalan Cinta Kasih Seorang Imam. Ruteng: Sekpas

Keuskupan Ruteng, 1999.

_____________, Khotbah Tahun C, Seri Kotbah 3. Maumere: Ledalero, 2003.

_____________, Relasi antar Pribadi Seorang Imam Selibater.

Ruteng: Sekpas Keuskupan Ruteng, 1999.

Levey. Judith S. & Agnes Greenhall (eds.), The Concise Columbia Encyclopedia

New York: Avo Books, 1983.

Lerner. Eric, Journey of Insight Meditation: a personal experience of the Budha’s

way. London: Turnstone Books, 1977.

Peters. J.P.A., Lagu Batin Sumber Hidup, terj. Cyprianus Verbeek.

Yogyakarta: Kanisius, 1985.

Rahner. Karl, Everyday Faith. New York: Herder and Herder, 1968.

_____________, On Prayer. New York: Paulist Press, 1958.

Slatery. Peter, Sumber-sumber Karmel, terj. E. Siswanto. Malang: Dioma, 1993.

St. Teresa dari Yesus, Puri Batin, terj. Marie Terese. Bandung:

Karmel Lembang, 1992.

Vouillume. Rene, Faith and Contemplation. London: Darton, Longman and

Todd, 1974.

Verbeek. Cyprianus, Dalam Kuasa Cinta. Malang: Dioma, 1993.

Yohanes dari Salib, Cinta Membimbing. terj. Verbeek. Cyprianus.

Malang: Dioma, 1981.

MAJALAH, MANUSKRIP DAN WEBSITE INTERNET:

Djiwandono. Soedjati, “Kotbah Kurang Menarik?” dalam: Mingguan HIDUP,

16 Februari 2003.

Bala. Robert, “Kotbah dan Informasi” dalam: Mingguan HIDUP, 16 Februari

2003.

Decky. Teobald, “Kekuatan Kata” dalam: ZIARAH, No. 3, Thn IV,

Desember 2000.

http://www.geocities.com/seapadre 1999/ dari P. Phil Bloom.

http://www.ignatius.net/pastor.html dari P. Joseph Pellegrino.

Isaak. Servulus, Literatur Kenabian-Profetismus. Maumere: STFK Ledalero, 1999.

Komang. J.B., “Kolom Homili” dalam: Mingguan HIDUP, 24 November 2002.

Rivai. S., “Bila Imam dan Kaum religius ikut MLM” dalam: Mingguan HIDUP,

4 Mei 2003.

Utomo. Christ Widya, “Tentang Kotbah” dalam: Mingguan HIDUP,

24 Agustus 1997.

Watanama. Lorent, “Kotbah yang baik” dalam: Mingguan HIDUP,

19 Januari 2003.



[1] Bdk. Rm. Dr. Hubert Leteng Pr, Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Maumere: Ledalero, 2003, hal. 13.

[2] Bdk. PO, 3 dalam: Robert Hardawiryana (penterj.), Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Obor, 1992, hal. 463.

[3] Dokumen Pastores Dabo Vobes, 2,3 menulis, “Pilihan Hidup menjadi seorang imam adalah ‘pilihan cinta kasih”. Rm. Dr. Hubertus Leteng Pr, Cinta Kasih Pastoral Seorang Imam: Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Cinta Kasih Seorang Imam, Ruteng: Sekpas Keuskupan Ruteng, 1999, hal. 1.

[4] Pada buku Cinta Kasih Pastoral Seorang Imam, Rm. Dr. Hubertus Leteng menampilkan hal ini pada bagian ketiga dan menandaskan pentingnya dimensi sosial sebagai perwujudan bentuk konkret dari cinta kasih yang vertikal. Bdk. Ibid, hal. 52-70.

[5] Untuk uraian pada bagian ini, terfokuskan pada beberapa tulisan dari Mingguan HIDUP dan juga atas observasi spontan pada umat yang mengikuti perayaan Ekaristi.

[6] Christ Widya Utomo, “Tentang Kotbah” dalam: Mingguan HIDUP, 24 Agustus 1997, hal. 5.

[7] P. Loren Watanama Pr, “Kotbah yang baik” dalam: Mingguan HIDUP, 19 Januari 2003, hal. 5.

[8] J. Soedjati Djiwandono, “Kotbah Kurang Menarik?” dalam: Mingguan HIDUP, 13 Juli 1997, hal. 10.

[9] Robert Bala SVD, “Kotbah dan Informasi” dalam: Mingguan HIDUP, 16 Februari 2003, hal. 18.

[10] Christ Widya Utomo, Op. Cit, hal. 5.

[11] Soedjati Djiwandono, Op. Cit., hal. 10.

[12] J. B. Komang, “Kolom Homili” dalam: Mingguan HIDUP, 24 November 2002, hal. 5.

[13] Lihat misalnya: Karl Rahner, Everyday Faith, New York: Herder and Herder, 1968.

[14] Sebagai misal: Rm. Dr. Hubert Leteng Pr, Khotbah Tahun C, Seri Kotbah 3, Maumere: Ledalero, 2003; Rm. Yosef Lalu Pr, Inilah Puteraku yang Terkasih, Homili Tahun C, Ende: Nusa Indah, 1985; Tuhan Segala Bangsa, Homili Tahun B, Ende: Nusa Indah, 1984, dll.

[15] Lihat misalnya: http://www.st.ignatius.net/pastor.html dari P. Joseph Pellegrino, atau: http://www.geocities.com/seapadre 1999/ dari P. Phil Bloom.

[16] Sebagai contoh: SUAKA yang diterbitkan oleh Kelompok Studi Spiritualitas Karmel (KSSK) yang berisi renungan untuk dua hari minggu dalam setiap edisinya dan beberapa kolom lain yang bergerak seputar kontekstualisasi Sabda dalam kehidupan sehari-hari.

[17] Khusus untuk perspektif Budis, bdk. Eric Lerner, Journey of Insight Meditation: a personal experience of the Buddha’s way, London: Turnstone Books, 1977.

[18] Tanpa berusaha menafikan perspektif yang lain, tulisan ini lebih difokuskan pada tradisi Kristen.

[19] Naomy Humphrey, Meditasi Jalan Ke Dalam Diri, Jakarta: Abdi Tandur, 2000, hal. 15.

[20] Ibid, hal. 16, 24.

[21] Judith S. Levey & Agnes Greenhall (eds.), The Concise Columbia Encyclopaedia, New York: Avo Books, 1983, hal. 531.

[22] Rm. Dr. Hubertus Leteng Pr, Relasi Antar Pribadi Seorang Imam Selibater, Ruteng: Sepkas, 1998, hal. 138.

[23] Ibid, hal. 138.

[24] Mat 14:13.

[25] Mark 6:31-32.

[26] Luk 9:28.

[27] Luk 5:16.

[28] Mark 1:35.

[29] Mark 1:12-13

[30] Yoh 5:30

[31] Pengalaman bahwa juga kota besar mampu menyimpan ketenangan dalam dirinya, bahwa juga gedung-gedung bertingkat tinggi bersinar seperti intan, bagi Carlo Carretto, memiliki arti yang sama dengan kehidupannya di padang gurun Sahara. Bdk. Carlo Carretto, Kotamu adalah Gurunmu, terj. Andreas Tefa Sawu, Ende: Nusa Indah, 1995.

[32] Orang banyak mengikuti Yesus ke manapun Ia pergi: “Semua orang mencari Engkau” (Mrk. 1:37), “Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukanNya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka” (Luk 4:42), dll.

[33] Kis 3:16, 14:23.

[34] Tentang Lectio Divina, Bdk. Carlos de Mesters, Lectio Divina, terj. Piet Go, Malang: Dioma, 1992. Dalam buku itu, Carlos de Mesters menjelaskan tahap-tahap Lectio Divina: Membaca, Merenungkan, Doa, Kontemplasi.

[35] Rm. Dr. Hubertus Leteng, Spiritualitas Imamat, Op. Cit., hal. 401.

[36] Morton T. Kelsey, Companion on The Inner Way: The Art of Spiritual Guidance, New York: The Crossroad Publishing Company, 1983, hal. ix.

[37] Johanes B. Lotz, Interior Prayer: The Exercise of Personality, New York: Herder and Herder, 1968, hal. 34., sebagaimana dikutip Rm. Dr. Hubertus Leteng Pr dalam: Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Op. Cit., hal. 402-403.

[38] Hardawiryana, “Dei Verbum art. 21” Op. Cit., hal. 333.

[39] Cyprianus Verbeek O.Carm (penterj.), Cinta Membimbing, Malang: Dioma, 1981, hal. 10.

[40] Maz 127.

[41] Teobald Decky, “Kekuatan Kata” dalam: majalah ZIARAH, No. 3, Thn. IV, Desember 2000, hal. 61.

[42] Bdk. Kolom “Antar Kita” bertajuk: Bila Imam dan Kaum Religius Ikut MLM dalam: Mingguan HIDUP, 4 Mei 2003, hal. 45.

[43] Bdk. Kolom “Sejenak Tawa” bertajuk: Waktu Luang Romo, yang membuat distinksi antara cara hidup imam zaman lampau (tradisional) dan zaman kini (modern), dalam: Ibid, hal. 5.

[44] Bdk. Rm. Dr. Hubert Leteng Pr, Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Op. Cit., hal. 406.

[45] Bdk. Cyprianus Verbeek, Op. Cit, hal. 36-40., lihat juga Rm. Dr. Hubert Leteng Pr, Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Loc. Cit.

[46] Maz 51.

[47] Ef. 4:29-32.

[48] Hal ini dapat ditelusuri dalam karyanya tentang: Puri Batin. Teresa dari Yesus, Puri Batin, terj. Marie Terese, Bandung: Karmel Lembang, 1992. Dalam buku ini St. Teresa melukiskan hidup doa, termasuk meditasi, sebagai jalan bertahap menuju inti jiwa yakni Allah. Bdk. Juga karya Peter Slatery O.Carm, Sumber-Sumber Karmel, terj. E. Siswanto O.Carm, Malang:Dioma, 1993, hal. 67-74.

[49] Bdk. Mat 12:28-34.

[50] Gal 2: 20.

[51] Pewarta sering dilihat sebagai identitas nabi. Kata “nabi”, “prophemi”, “profeta/prophet” memiliki berbagai arti: profeta (mengatakan sesuatu terlebih dahulu, menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi, berbicara atas nama Allah), bentuk gramatik qatil yang mempunyai arti aktif: dia memaklumkan, dia yang berseru. P. Servulus Isaak, SVD Lic., Literatur Kenabian-Profetismus, Maumere: STFK Ledalero, 1999, hal. 4-6.

[52] Yak 1:22.

[53] Bdk. Koen de Meester OCD, Tangan Kosong-Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, terj. Cyprianus Verbeek O.Carm, Ende: Nusa Indah, 1984.

[54] Rm. Dr. Hubert Leteng Pr, Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Op. Cit., hal. 403.

[55] Tentang kontemplasi baca juga: Rene Voillaume, Faith and Contemplation, London: Darton, Longman and Todd, 1974. Karl Rahner, On Prayer, New York: Paulist Press, 1958. Carlo Careto, In Search of The Beyond, London: Darton, Longman and Todd, 1977. J.P.A. Peters OCD, Lagu Batin Sumber Hidup, terj. Cyprianus Verbeek O. Carm, Yogyakarta: Kanisius, 1985. Yohanes dari Salib, Cinta Membimbing, terj. Cyprianus Verbeek O.Carm, Malang: Dioma, 1981. William A. Barry & Robert G. Doherty, Contemplative in Action. New York: Paulist Press, 2002. Willigis Jager, Contemplation A Christian Path. Misouri: Triumph Books, 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar